Rabu, 26 April 2017
Selasa, 25 April 2017
tumor pada vulva vagina
penulis membahas tentang tumor vulva dan vagina yang sangat bermanfaat bagi kalangan tenaga kesehatan sehingga bagi tenaga kesehatan dapat mengetahui pengertian dari berbagai jenis tumor
link to Download
link to Download
Jumat, 21 April 2017
membina komunikasi
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Angka kematian di Indonesia masih tinggi. Setiap tahun
sejumlah 18.000 ibu meninggal dunia, dua nyawa melayang setiap satu jam, karena
kehamilan dan atau persalinan. Kematian ibu ternyata tidak hanya diikuti oleh
tinginya angka kematian bayi tetapi juga meningkatkan jumlah balita yang piatu
baru (± 36.000 setiap tahun).
Risiko kematian ibu akibat kehamilan, persalinan, dan
nifas serta bayi, dapat dikurangi bila ada upaya persiapan persalinan dan
kemudahan mendapatkan pelayanan kesehatan dasar. Salah satu ujung tombak
pelayanan kesehatan dasar bagi ibu dan bayi adalah Bidan. Tetapi, pada kenyataannya walaupun hampir
semua pemeriksaan antenatal datang pada bidan, sebagian besar persalinan masih
ditolong oleh dukun beranak. Hal ini menunjukkan bahwa ibu lebih percaya kepada
dukun beranak dibandingkan Bidan.
Salah satu penyebab keadaan tersebut adalah rendahnya
kualitas keterampilan dalam membina hubungan baik sikap dan perilaku dasar yang
dibutuhkan belum terlaksana dengan baik.
Dalam memberikan asuhan kepada ibu dan bayi tidak cukup dengan ketermpilan
teknis medis semata, kualitas komunikasi bidan yang rendah akan berdampak
terhadap transfer pesan keada klien yang kurang baik, bidan menjadi kurang peka
dan kurang mampu menggali kebutuhan dan masalah klien, tidak tanggap terhadap
perasaan klien, klien merasa tidak puas dan selanjutnya dapat diperkirakan
kredibilitas bidan tersebut diragukan.
Pelatihan keterampilan berkomunikasi untuk bidan
sangatlah penting dan mempunyai tujuan untuk meningkatkan keterampilan bidan
dalam bidang komunikasi intrapersonal dan public sehingga kualitas pelayanan
pada ibu hamil dan melahirkan menjadi lebih baik.
1.2 Tujuan Umum
Memahami pentingnya kualitas keterampilan dalam membina hubungan baik sikap
dan perilaku dasar yang dibutuhkan oleh klien
1.3 Tujuan Khusus
1.
Memahami
keterampilan membina hubungan baik
2.
Memahami
kemampuan bertanya
3.
Memahami
keterampilan observasi
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
keterampilan membina
hubungan baik
Dalam
konseling, bidan yang baik adalah bidan yang selalu berusaha untuk membina
hubungan baik dengan klien. Dan ini akan terjadi bila ada kerjasama diantara
keduanya. Keterampilan membina hubungan baik merupakan dasar dari proses
komunikasi interpersonal bidan dengan klien, dengan petugas kesehatan yang
lain, tokoh masyarakat dan sebagainya. Dalam membina hubungan baik perlu
memberikan dukungan atau motivasi kepada klien.
a.
Tiga hal penting yang harus diperhatikan
agar hubungan baik mantap.
1) Menunjukkan
tanda perhatian verbal
2) Menjalin
kerjasama
3) Memberikan
respon yang positif
b.
Sikap dan perilaku dasar yang dibutuhkan
Keterampilan membina hubungan baik merupakan dasar
dari komunikasi interpersonal. Membina hubungan baik bisa kita awali dengan
sikap hangat, menghormati, menerima klien apa adanya, empati, dan tulus.
Hubungan baik harus dimulai sejak awal hubungan dan tetap dipertahankan
seterusnya. Perilaku bidan yang mendukung terciptanya hubungan baik antara lain
: memberi salam dengan ramah, mempersilahkan duduk, tidak memotong pembicaraan,
menjaga kerahasian klien, tidak menilai klien dll. Selain itu sikap yang perlu
dimiliki adalah SOLER yang merupakan singkatan dari :
S : face your squaerly (menghadap ke klien) dan (nod
at client senyum atau mengangguk ke klien)
O : open and non judgemental facial exspressio
(ekspresi muka menunjukkan sikap terbuka dan tidak menilai)
L : lean toward client/tubuh condong ke klien
E : eye contact in aculturally acceptable
manner/kontak mata sesuai cara, budaya setempat.
R : relaxed and freindy manner (santai dan sikap
bersahabat)
c.
Beberapa sikap yang bisa diamati dalam membina hubungan baik
|
No.
|
Tingkah
laku yang diamati
|
Ya
|
Tidak
|
Catatan
|
|
1
|
Menyediakan
lingkungan fisik yang dapat membuat klien merasa nyaman
|
|
|
|
|
2
|
Menyambut
dan mempersilahkan duduk
|
|
|
|
|
3
|
Duduk
menghadap klien
|
|
|
|
|
4
|
Senyum
dan mengangguk
|
|
|
|
|
5
|
Ekspresi
wajah menunjukkan mendengar dengan penuh perhatian
|
|
|
|
|
6
|
Tubuh
condong ke klien
|
|
|
|
|
7
|
Kontak
mata/ tatapan mata sesuai yang di terima budaya setempat
|
|
|
|
|
8
|
Santai
dan sikap bersahabat
|
|
|
|
|
9
|
Volume
suara memadai
|
|
|
|
|
10
|
Intonasi
dan kecepatan berbicara memadai
|
|
|
|
|
11
|
Memberi
pujian/ dukungan
|
|
|
|
|
12
|
Menyampaikan
akan menjaga kerahasiaan
|
|
|
|
|
13
|
Tidak
menginterupsi/ memotong pembicaraan klien
|
|
|
|
|
14
|
Tidak
melakukan penilaian (menyalahkan, komentar negatif)
|
|
|
|
|
15
|
Menanyakan
alasan kedatangan klien
|
|
|
|
|
16
|
Menghargai
apapun pertanyaan maupun endapat klien
|
|
|
|
d. Mendengar
aktif
Menjadi pendengar aktif bagi konselor sangat penting
karena :
1. Menunjukkan
kepedulian
2. Merangsang
dan memberikan klien bereaksi secara spontan kepada konselor
3. Menimbulkan
situasi yang mengajarkan
4. Klien
membutuhkan gagasan-gagasan baru
Untuk mencapai tujuan dari komunikasi perlu saling memahami dan
saling mendengarkan, dalam komunikasi terapeutik bidan perlu mempelajari
ketrampilan mendengar. Dalam komunikasi terapeutik bidan perlu mempelajari
mendengar aktif. Untuk menjadi pendengar yang baik konselor harus memiliki
kemampuan sebagai berikut:
1)
Mampu berhubungan dengan orang
diluar kalangannya
2)
Mempunyai cara-cara untuk membantu
klien
3)
Memperlakukan klien untuk
menimbulkan respon yang bermakna
4)
Bertanggungjawab bersama klien untuk
konseling
Dalam komunikasi interpersonal konseling ada empat bentuk
mendengarkan yang bisa digunakan sesuai situasi yang dihadapi.
1)
Mendengar pasif (diam)
Mendengarkan memerlukan ketrampilan dan latihan yang terus menerus,
dengan mendengarkan kita akan memperoleh informasi yang lengkap dari klien.
Meskipun ini memerlukan kesabaran. Di indonesia mendengar pasif biasanya
dilakukan saat klien menceritakan masalahnya, berbicara tanpa henti,
menggebu-gebu dengan perasaan kesal atau sedih, saat klien berhenti bicara
sejenak, konselor dapat diam untuk memberi kesempatan klien berpikir dan
menenangkan diri.
2)
Memberi tanda perhatian verbal
Konselor perlu memberikan respon pada klien dengan menggunakan
kata-kata atau perhatian verbal. Hal ini dilakukan dengan memberikan motivasi
pada klien agar semangat dalam berbicara.
3)
Membuka pembicaraan, undangan untuk
berbicara (mengajukan pertanyaan untuk mendalami dan klarifikasi)
Mengajukan pertanyaan dilakukan apabila konselor belum puas dengan
jawaban yang diberikan klien, perlu klarifikasi mengenai hal yang diungkapkan
klien, menandakan konselor mengikuti alur pembicaraan klien.
4)
Mendengar aktif
Memberikan umpan balik atau mereflesikan isi ucapan dan perasaan
yaitu merangkum.
2.2 Kemampuan
Bertanya
Bertanya merupakan ketrampilan yang cukup penting dan strategis
dalam proses komunikasi baik dalam memulai, selama proses ataupun dalam
mengakhiri. Ketrampilan bertanya dapat dikembangkan dengan memperhatikan
beberapa hal sebagai berikut:
1.
Perhatikan suasana konseling klien
2.
Kuasai materi yang berkaitan dengan
pertanyaan
3.
Ajukan pertanyaan dengan cara yang
jelas dan terarah, serta tidak keluar dari topik
4.
Segera beri respon atau umpan balik
terhadap jawaban pertanyaan yang diajukan dengan sikap yang baik dan empati.
Jenis-jenis
pertanyaan sebagai berikut:
1.
Pertanyaan tertutup: pertanyaan
tertutup yang jawabannya sudah pasti dan ini biasanya membutuhkan jawaban’’ iya
atau tidak” untuk mengumpulkan informasi yang faktual (biasanya diawal
percakapan).
2.
Pertanyaan terbuka: merupakan
pertanyaan yang menuntut jawaban yang memungkinkan adanya berbagai macam
jawaban, dan memberi kebebasab menjawab pada klien. Ini akan menuntut
partisipasi aktif dari klien dan merupakan cara efektif untuk menggali
informasi dari klien.
3.
Pertanyaan mendalam: dimaksudkan
untuk menggali lebih mendalam apa yang sudah diungkapkan oleh klien, sehingga
informasi didapat secara lengkap dan mendetail. Melengkapi dan menggali lebih
dalam hal-hal yang diperlukan, terutama yang bersifat privasi untuk melakukan
ini memerlukan pendekatan dan keakraban dan didasarkan saling percaya dimana
ini memerlukan teknik yang khusus agar tidak biasa.
4. Pertanyaan mengarahkan/sugestis: mengarahkan berarti bidan
mengarahkan apa yang dibicarakanklien. Tidak selalu tepat digunakan pada
berbagai kondisi. Pertanyaan mengarahkan ini sebaiknya dihindari oleh bidan dan
biarkan klien mengungkapkan perasaannya secara spontan.
Bertanya efektif: ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan agar
bidan bisa bertanya secara efektif: gunakan intonasi suara yang menunjukkan
perhatian, minat dan keakraban
Untuk mencapai tujuan dari komunikasi perlu saling memahami
dan saling mendengarkan. Dalam komunikasi terapeutik bidan perlu mempelajari
keterampilan mendengar aktif.
Untuk menjadi pendengar yang baik konselor harus memiliki
kemampuan sebagai berikut :
1) Mampu berhubungan dengan orang
diluar kalangannya
2) Mempunyai cara- cara untuk membantu
klien
3) Memperlakukan klien untuk
menimbulkan respon yang bermakna
4) Bertanggung jawab bersama klien
dalam konseling
Dalam komunikasi interpersonal konseling ada 4 bentuk
mendengarkan yang bisa digunakan sesuai situasi yang dihadapi
1) Mendengar pasif ( diam )
Mendengarkan memerlukan keterampilan dan latihan yang
terus-menerus, dengan mendengarkan kita akan memperoleh informasi yang lengkap
dari klien. Meskipun ini memerlukan kesabaran. Di Indonesia mendengar pasif
biasanya dilakukan saat klien menceritakan masalahnya, berbicara tanpa henti,
mengebu- gebu dengan perasaan kesal atau sedih, saat klien berhenti bicara
sejenak, konselor dapat diam untuk memberi kesempatan klien berpikir dan
menenangkan diri.
2)
Memberi tanda perhatian verbal
Konselor perlu memberikan respon pada klien dengan
menggunakan kata- kata atau
perhatian verbal. Hal ini dilakukan untuk memberikan
motivasi pada klien agar semangat dalam berbicara.
3) Membuka pembicaraan, undangan untuk
berbicara (mengajukan pertanyaan untuk
mendalami
dan klarifikasi)
Mengajukan pertanyaan dilakukan apabila konselor belum puas
dengan jawaban
yang
diberikan klien, perlu klarfikasi mengenai hal yang diungkapkan klien,
menandakan konselor mengikuti alur pembicaraan klien.
4)
Mendengar
aktif : memberikan umpan balik/ merefleksikan isi ucapan dan perasaan yaitu
merangkum, merefleksikan isi uacapan ( paraphrasing ) dan
refleksi perasaan.
Keterampilan
bertanya dapat dikembangkan dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
1)
Perhatikan suasana konseling klien
2)
Kuasai materi yang berkaitan dengan
pertanyaan
3)
Ajukan pertanyaan dengan cara yang
jelas dan terarah, serta tidak keluar dari topik
4)
Segera beri respon/ umpan balik
terhadap jawaban pertanyaan yang diajukan dengan sikap yang baik dan empati.
Jenis
pertanyaan :
1) Pertanyaan tertutup : pertanyaan
tertutup yang jawabannya sudah pasti dan ini biasanya hanya membutuhkan jawaban
“ ya atau Tidak’ untuk mengumpulkan informasi yang faktual ( biasanya diawal
percakapan ).
2) Pertanyaan terbuka : merupakan
pertanyaan yang menuntut jawaban yang menungkinkan adanya berbagai macam
jawaban, dan memberi kebebasan menjawab pada klien. Ini akan menuntut
partisipasi aktif dari klien dan merupakan cara efektif untuk menggali
informasi dari klien.
3) Pertanyaan mendalam : dimaksudkan
untuk menggali lebih mkendalam apa yang sudah diungkapkan oleh klien, sehingga
informasi didapat secara lengkap dan mendetail. Melengkapi dan menggali lebih
dalam hal- hal yang diperlukan, terutama yang bersifat privasi, untuk melakukan
ini memerlukan pendekatan dan keakraban dan didasarkan saling percaya, dimana
ini memerlukan teknik yang khusus agar tidak bias.
4) Pertanyaan mengarahkan/sugestif :
mengarahkan berarti Bidan mengarahkan apa yang dibicarakan klien. Tidak selalu
tepat digunakan pada berbagai kondisi. Pertanyaan mengarahkan ini sebaiknya
dihindari oleh Bidan dan biarkan klien mengungkapkan perasaannya secara
spontan.
Bertanya
efektif :
Ada
beberapa hal yang sebaiknya dilakukan agar Bidan bisa bertanya secara efektif :
1) Gunakan intonasi suara yang
menunjukkan perhatian, minat dan keakraban. Jangan terlalu cepat/lambat atau
terlalu keras/ lemah. Karena suara yang terlalu lemah dan lambat akan susah
didengar dan sering membuat ngantuk karena seolah- olah kita dibuai oleh suara
seperti itu. Begitu pula suara yang terlalu keras akan membuat telinga sakit
dan mengurangi konsentrasi untuk mendengar.
2) Gunakan kata- kata yang difahami
klien, karena bahsa- bahasa ilmiah yang tidak dipahami klien tidak akan bisa
terjadi atau bahkan menyebabkan salah arti. Ini sering terjadi pada bidan-
bidan diawal pekerjaannya. Istilah- istilah kebidanan sering digunakan untuk
berkomunikasi dengan klien yang tidak memahami istilah tersebut.
3) Ajukan pertanyaan satu persatu.
Jangan mengajukan beberapa pertanyaan sekaligus. Karena ini tidak efektif
kadang klien hanya ingat pertanyaan yang terakhir saja sehingga kita harus
mengulang- ulang lagi. Sehingga ajukan pertanyaan satu persatu agar bisa
terjawab sesuai apa yang kita butuhkan.
4) Tunggu jawaban dengan penuh minat,
jangan memotong. Biarkan klien menyelesaikan kalimatnya karena pemotongan
ditengah kalimat bisa menimbulkan salah persepsi.
5) Gunakan kata- kata yang mendorong
klien untuk tetap bicara. Dengan demikian klien merasa diperhatikan dan lebih
semangat untuk mengungkapkan pembicaraannya.
6) Bila harus menanyakan hal yang
sangat pribadi, jelaskan mengapa hal itu harus ditanya. Kadang- kadang klien
malu untuk mengungkapkan dan menutupi hal- hal tersebut. Dengan penjelasan
bahwa hal itu untuk tujuan penyembuhan dll maka klien akan mengungkapkan secara
sukarela dan terbuka.
7) Hindari penggunaan kata tanya “
mengapa “ karena kemungkinan kita dapat merasa disahkan.
2.3
Keterampilan Observasi
Bidan perlu
mengamati tingkah laku pasien secara verbal dan non-verbal untuk
mengidentifikasi pesan-pesan yang tidak sejalan (sinkron) dan campur aduk. Bidan perlu menggabungkan informasi kedalam tiga
kategori.
1.
Tingkah laku non-verbal klien
Cara menatap
mata, bahasa tubuh, kualitas suara, merupakan indicator penting yang
mengungkapkan apa yang sedang terjadi pada diri klien.
2.
Tingkah laku verbal klien
Kapan klien
beralih topic apa saja kata-kata kunci, penjelasan-penjelasan yang disampaikan
dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan
3.
Kesenjangan pada diri klien
Seorang
bidan yang tajam pengamatannya akan memperhatikan bahwa ada beberapa
ketidaksesuaian antara tingkah laku verbal dan non-verbal antara dua buah
pertanyaan, antara apa yang diucapkan dan apa yang dikerjakan.
Kita dapat
belajar lebih peka terhadap tingkah laku non-verbal dan arti dari suatu tingkah
laku verbal yang ditampilkan seorang klien. Misalkan klien berkata bahwa
hubungannya dengan suami baik-baik (dengan raut muka yang penuh kesedihan dan
ada sesuatu yang ditutup-tutupi). Harus ditelaah lebih lanjut arti dari
ketidaksesuaian antara yang disampaikan (verbal) dengan ekspresi muka
(non-verbal).
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Jadi dapat disimpulkan bahwa keterampilan yang dimiliki bidan tidak hanya
keterampilan teknis medis semata tetapi juga keterampilan untuk membina
hubungan baik sikap dan perilaku dasar terhadap klien. Didalam membina hubungan
yang baik dengan klien kita harus mengetahui Tiga hal penting
yang harus diperhatikan agar hubungan baik, yaitu : Menunjukkan tanda
perhatian verbal, Menjalin
kerjasama, dan Memberikan
respon yang positif.
3.2 Saran
Pada saat ini, dalam menerapkan
keterampilan membina hubungan baik sikap
dan perilaku dasar pada praktik kebidanan itu memang tidak mudah. Tapi, jika
kita telah menguasai keterampilan berkomunikasi dan menjalin hubungan yang baik
dengan klien, kita akan lebih mudah dalam memberikan asuhan yang seharusnya
didapat oleh klien.
Langganan:
Postingan (Atom)