Selasa, 18 April 2017

diaper rash



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Asuhan kebidanan adalah perawatan yang diberikan bidan. Jadi, asuhan kebidanan pada neonatus, bayi, dan balita adalah perawatan yang diberikan oleh bidan pada bayi baru lahir, bayi, dan balita. Neonatus, bayi, dan balita dengan masalaah adalah suatu penyimpangan yang daat menyebabkan gangguan pada neonatus, bayi, dan balita apabila tidak diberikan asuhan yang tepat dan benar. Ada beberapa masalah yang lazim terjadi diantaranya adalah adanya diaper rash, sebhorrea, furunkel, dan milliariasis.
1.2  Tujuan Umum
Mengetahui penyulit dan komplikasi neonatus, bayi, balita, dan anak prasekolah.
1.3  Tujuan Khusus
1.      Mengetahui tentang diaper rash
2.      Mengetahui tentang Sabhorrea
3.      Mengetahui tentang Furunkel (Bisul)
4.      Mengetahui tentang Milliariasis

















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Diaper Rash
1.      Definisi
Diaper rash adalah pada kulit bayi akibat adanya kontak yang terus menerus dengan lingkungan yang tidak baik.
2.   Etiologi
Inflamasi dilapisan teratas kulit, disebabkan kontak langsung dnegan suatu zat, dibagi menjadi 2 subtipe : demmatitis kontak iritan dan dermatitis kontak alergi. Dermatitis kontak iritan  umum terjadi dan terlihat setelahn permukaan kulit terpajan oleh bahankimia iritatif atau terpajan berulang pada zat yang menyebabkan kulit kering. Dermatitis kontak alergi  merupakan reaksi imunitas selular. Antigen, atau hapten yang terlibat dalam dermatitis kontak alergi berpenetrasi kedalam epidermis dan terikat oleh sel-sel Langerhans, yang merupakan Antigen-presenting cells  di kulit. Hapten dipresentasikan di limfosit T, dan diikuti reaksi imun selanjutnya. Dermatitis kontak popok adalah masalah yang umum dan dialami lebih kurang 10% bayi antara usia 0 dan 2 tahun (Nelson, 2014)
a)      Tidak terjaganya kebersihan kulit dan pakaian bayi.
b)      Jarangnya mengganti popok setelah bayi BAB dan BAK.
c)      Terlalu panas atau lembabnya udara/suhu lingkungan.
d)      Tingginya frekuensi BAB (diare).
e)      Adanya reaksi kontak terhadap karet, plastik, dan deterjen.
3.      Patofisiologis
Urin akan meningkatkan pH kulit melalui pemecahan urea menjadi amonia. Peninggian pH kulit ini akan meningkatkan aktifitas enzim protease dan lipase sehingga terjadi kerusakan sawar kulit. Rusaknya sawar kulit akan meningkatkan permeabilitas kulit sehingga memudahkan mikroorganisme dan bahan-bahan iritan/alergen masuk melalui kulit dan menimbulkan gangguan dikulit.
4.      Tanda dan Gejala
Dermatitis kontak iriran ditandai dengan plak merah berbatas tegas dan plek dengan skuama sekunder. Erusi terlokalisasi pada permukaan kulit yang terpajan oleh iritan. Dermatitis iritan popok berdistribusi di regio perianal dan bokong, area yang terpajan berulang kali dengan urin dan feses. Dermatitis kontak iritan juga terlihat sering dipermukaan dorsal tangan pasien yang berulang kali mencuci tangan mereka dengan sabun yang mengiritasi. Dermatitis konta alergi biasanya akut dan reaksi berat terbatas pada daerah yang terpajan. Lesi awal adalah bercak gatal, erah terang, sering kali linier atau konfigurasi tidak beraturan, serta berbatas tegas. Didalam bercak terdpat vesikel bening dan bula hemoragik (serosanguineus). Gejala dan tanda penyakit ini dapat tertunda sampai 7-14 hari setelah pejanan apaila pasien belum pernah tersensitisasi sebelumnya. Pada pejanan berulang, gejala terjadi pada hitungan jam dan pada umumnya lebih parah. Erupsi mungkin bertahan mingguan (Nelson, 2014)
a.       Iritasi pada kulit yang kontak langsung dengan alergi, sehingga muncul eritema.
b.      Erupsi pada daerah kontak yang menonjol, seperti bokong, alat genital, perut bawah, atau paha atas.
c.       Pada keadaan yang lebih parah dapat terjadi papilla eritematosa, vesikula, dan ulserasi.
5.      Penatalaksanaan
Steroids topikal efektif dalam terapi dermatitis kontak iritan dan alergi. Steroids potensi kuat mungkin dibutuhkan untuk reaksi berat dermatitis konta alergi. Antihistain oral atau kortikodteroids oral dapat dibutuhkan untuk mengatasi gatal. Terapi ruam popok akibat Candida mencakup krim atau salap nistatin topikal, krim klotrimazol1% atau salap mikonazol 2%. Oral trush yang menyertai sebaikya diterapi dengan larutan nistati oral atau gentian violet toikal. Lesi dengan inflamasi berat dapat diberi terapi tambahan hidrokortison 1% topikal jangka pendek (1-2 hari). Hidrokortison 2,5% seringkali ditambahkan kedalam obat antijamur topikal untuk mengobati komponen iritan dermatitis popok bila infeksi jamur ditemukan bersamaan (Nelson, 2014)
1.      Daerah yang terkena ruang popok, tidak boleh terkena air dan harus dibiarkan terbuka dan tetap kering.
2.      Gunakan kapas halus yang mengandung minyak untuk membersihkan kulit yang iritasi.
3.      Segera bersihkan dan keringkan bayi setelah BAB atau BAK.
4.      Atur posisi tidur anak agar tidak menekan kulit atau daerah yang iritasi.
5.      Usahakan memberikan makanan tinggi kalori tinggi protein (TKTP) dengan porsi cukup.
6.      Perhatikan kebersihan kulit dan tubuh secara keseluruhan.
7.      Jagalah kebersihan pakaian dan alat-alat untuk bayi.
8.      Rendamlah pakaian atau celana yang terkena urine dalam air yang bercampur acidum borium, setelah itu bersihkan tetapi jangan menggunakan sabun cuci, segera bilas dan keringkan.
2.2 Sebhorrea
1.      Definisi
Adalah radang berupa sisik yang berlemak dan eritema pada daerah yang terdapat banyak kelenjar sebaseanya, biasanya di daerah kepala
2.      Etiologi
Dermatitis seboroik adalah penyakit inflamasi kronik umum yang memiliki manifestasi klinis berbeda pada usia yang berbeda. Area yang rentan terhadap dermatitis seboroik meliputi kulit kepala dan batas kulit kepala berambut, alis, dasar bulu mata, lipatan nasolabial, liang telinga luar, dan lipatan telinga posterior. Dermatitis seboroik secara klasik muncul waktu bayi sebagai cradle cap atau dermatitis di daerah intertriginosa aksila,selangkangan, fosa antekubiti dan popotilea dan umbilikus, dan saat remaja terlihat sebagai ketombe. Faktor genetik dan lingkungan mempengaruhi awitan dan perjalanan klinis, sejajar dengan distribusi, ukuran dan aktifitas kelenjar sebaseus, walaupun peranannya tidak pasti. Malassezia furfur dapat merupakan penyebab (Nelson, 2014)
Belum di ketahui secara pasti, tetapi ada beberapa ahli yang menyatakan beberapa faktor penyebab seborrhea, yaitu :
a.       Faktor hereditas, yaitu bisa disebabkan karena adanya faktor keturunan orang tua
b.      Intake makanan yang berlemak dan berkalori tinggi
c.       Asupan minuman beralkohol
d.      Adanya gangguan emosi
3.      Patofisiologis
Patofisiologi yang sebenarnya belum diketahui secara pasti berdasarkan tempat prediksi. Kelainan ini diduga akibat disfungsi kelenjar sebasea. Selain itu erat kaitannya dengan pengaruh hormon sisa kehamilan ibunya. Karena itu dermatitis sebboroik atau sebhorrrea bisa sembuh dalam waktu 8-12 bulan. Yaitu saat jumlah hormon tersebut berkurang. Kelainan ini biasanya akan berulang pada dewasa muda.
Beberapa faktor (misalnya tingkat hormon, infeksi jamur, defisit nutrisi, dan faktor neurogenik) berhubungan dengan keadaan ini. Adanya masalah hormonal mungkin dapat menjelaskan mengapa keadaan ini muncul pada bayi, hilang secaraa spontan, dan muncul kembali setelah pubertas. Pada bayi dijumpai hormon transplasenta meninggi beberapa bulan setelah lahir dan penyakitnya akan membaik bila kadar hormon ini menurun. Juga didapati bahwa perbandingan komposisi lipid dikulit berubah. Jumlah kolesterol, trigliserida, parafin meningkat dan kadar sequelen, asam lemak bebas dan wax ester menurun.
Keadaan ini diperparah dengan peningkatan keringat. Strees emosional memberikan pengaruh yang jelek pada masa pengobatan. Obat-obet neuroleptik seperti haloperidol dapat mencetuskan dermatitis seboroik serta faktor iklim. Lessi seperti DS dapat nampak pada pasien defisiensi nutrisi, contohnya defisiensi besi, defisiensi niasin, dan pada penyakit parkinson. Sebhorrea juga terjadi pada defisiensi pyridoxine. Penelitian-penelitian melaporkan adanya suatu jamur lipofilic, pleomorfik, malasssezea ovalis (pityrosporum ovale), pada beberapa pasien dengan lesi pada kulit kepala pityrosporum ovale dapat didapatkan pada kulit kepala yang normal.
4.      Tanda gejala
Dermatitis seboroik pada bayi muncul sebagai cradle cap yang dapat muncul pada bulan pertama kehidupan. Umumnya asimptomatik kecuali penampilannya. Cradle cap terlihat sebagai skuama dan krusta tebal, berlilin, kuning-putih pada kulit kepala dengan skuama berminyak menempel. Kelainan ini biasanya menonjol pada daerah verteks, namun dapat juga difus. Dermatitis berminyak, bersisi, eritematosa, papular nonpruritik dapat meluas ke wajah, lipatan telinga posterior dan daerah popok dan dapat mengenai seluruh tubuh. Intertriginosa dapat terjadi plak eritrmatosa berbatas tegas dengan skuama kekuningan, berminyak, atau seperti lilin. Eritema jelas terlihat, terutama bilaa erupsi menyebar ke wajah dan tubuh. Hipopigmentasi dapat bertahan setelah inflamasi menghilang. Erupsi umumnya asimptomatik, yang dapat membantu membedakannya dengan dermatitis atopik infantil, adalah gatal. Dermatitik seboroik klasik saat remaja biasanya terlokalisasi dikulit kepala dan daerah intertriginosa dan dapat mencakup blefaritis dan liang telinga luar. Ketombe (dandruf) adalah skuama halus, putih, kering dikulit kepala dengan rasa gatal sedikit. Perubahan kulit kepala berfariasi dari skuama difus, keras sampai krusta kekuningan tebal, berminyak dengan dasar eritematosa. Pruritus dapat minimal atau parah. Plak seboroik pada tungkai berwarna merah muda dengan hyperkeratosis, berbatas tegas, dan lebih luas daripada plak dermatitis atopik (Nelson, 2014)
Dermatitis saboreik biasanya timbul secara bertahap, menyebabkan sisik kering atau berminyak dikulit kepala atau ketombe, kadang disertai gatal-gatal tetapi tanpa kerontokan rambut. Pada kasus yang lebih berat, tibul bruntusan atau jerawat bersisik kekuningan sampai kemerahan disepanjang garis rambut, dibelakang telinga, didalam saluran telinga, alis mata, dan dada.
Pada bayi baru lahir yang berumur kurang dari satu bulan, dermatitis seboroik menyebabkan ruam tebal berkeropeng berwarna kuning dikulit kepala ( cradle cap) dan kadang tampak sebagai sisik berwarna kuning dibelakang telinga atau bruntusan merah diwajah. Ruam dikulit kepala ini sering disertai dengan ruam popok. Pada anak-anak dermatitis seboroik menyebabkan timbulnya ruam yang tebal di kulit kepala yang sukar disembuhkan. Tanda dan gejalanya :
1.      Kulit tampak berminyak
2.      Ruam tebal berkeropeng berwarna kuning dikepala (cradle cap)
3.      Kadang tampak seperti sisik dibelakang telinga
4.      Tampak erytrema, ketombe
5.      Perasaan gatal yang hebat
6.      Bayi biasanya rewel
7.      Gatal
8.      Kemerahan.
5.      Penatalaksanaan
Sebagian kecil skuama dermatitis seboroik dapat mudah dilepas dengan keramas lebih sering. Untuk segala usia, keramas harian dengan zinc pyrithionr, selenium sulfida 1% sampai 2,5%, atau asam salisilat dapat mengobati skuama kulit kepala. Dermatitis seboroik dengan lesi inflamasi berespons dengan cepat pada terapi steroid potensi rendah dua sampai empat kali sehari selama 3 sampai 5 kali. Kompres basah harus dilakukan pada plak basah (eksudatif) atau pecah-pecah sebelum pemakaian salap kortikosteroids. Respon terapi biasanya cepat. Infeksi bakteri sekunder dapat terjadi tapi jarang. Penyakit membande dan komplikasi lain membutuhkan evaluasi lebih lanjut untuk etiologi lainnya (Nelson, 2014)
a.       Secara kasual belum diketahui
b.      Topical, shampoo yang tidak  berbusa 2-3x per minggu dan krim selemum sulfide/Hg-presipirtatus albus 2%
2.3  Furunkel (Bisul)
1.      Definisi
Furunkel (boil dan isul) adalah peradangan pada folikel ramut pada kulit dan jaringan sekitarnya yang sering terjadi pada daerah bokong, kuduk, aksila, badan dan tangkai furunkel dapat terbentuk pada lebih dari satu tempat yang biasa disebut dengan furunkulosis.


2.      Etiologi
Furunkel terdapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah :
a.       Iritasi pada kulit
b.      Kebersihan kulit yang kurang terjaga
c.       Daya tahan tubuh yang rendah
d.      Infeksi oleh staphylococcus aureus
3.      Patofisiologi
Infeksi dimulai dari peradangan pada folikel rambut ada kulit (folikulitiis) yang menyebar pada jaringan sekitarnya. Radang nanah yang dekat sekali dengan kulit disebut pustule. Kulit diatasnya sangat tipis, sehingga nanah di dalamnya dapat dengan mudah mengalir keluar. Sedangkan bisulnya sendiri berada pada daerah kulit yang lebih dalam. Kadang-kadang nanah yang berada pada bisul diserap sendiri oleh tubuh tetapi lebih sering mengalir sendiri melalui lubang pada kulit.
4.      Gejala klinis
Gejala yang timbul dari adannya furunkel berfariasi tergantung dari beratnya penyakit. Gejala yang sering ditemui pada furunkel adalah :
a.       Nyeri pada daerah ruam
b.      Ruam pada daerah kulit berubah nodus eritematosa yang berbentuk kerucut dan memiliki pustule
c.       Nodul dapat melunak menjadi akses yang berisi pus dan jaringan nekrotik yang dapat pecah membentuk fistel dan keluar melalui lobus minoris resistenstae
d.      Setelah seminggu kebanyakan akan pecah sendiri dan sebagian dapat menghilang dengan sendirinya.
5.      Penatalaksanaan
Asuhan yang diberikan pada neonatus dengan furunkel tergantung pada keadaan penyakit yang di alaminya. Asuhan yang lazim diberikan adalah :
a.       Kebanyakan furunkel tidak membutuhkan pengobatan dan akan sembuh dengan sendirinya
b.      Pemeliharaan kebersihan daerah yang mengalami furunkel serta daerah sekitarnya
c.       Pengobatan topikal, lakukan kompres hangat untuk mengurangi nyeri dan melunakkan nodul. Kompres hangat dapat dilakukan sambil menutup ruam untuk mencegah penularan ke daerah lainnya
d.      Jangat memijat furunkel terutama di daerah hidung dan bibir atas karena dapat menyebabkan penyebaran kuman secara hematogen
e.       Bila furunkel terjadi di daerah yang janggal seperti pada hidung atau telinga maka dapat berkolaborasi dengan dokter untuk melakukan  insisi
f.        Jika memungkinkan dapat membuka bisul dengan cara :
1)      Beri penjelasan apa yang akan dilakukan atau inform consent
2)      Minta seseorang untuk memegangi anak
3)      Ambilah sebuah pisau bedah yang steril dan bukalah bisul dengan segera pada puncaknya saja. Kemudian masukkan penjepit dalam luka dan bukalah penjepitnya. Dengan cara ini, akan membuka jalan keluar untuk nanah tanpa mengganggu sesuatu pisau bedah jangan sampai masuk ke dalam karena dapat melukai pembuluh darah syaraf
4)      Pembeian analgetik, misalnya aspirin atau paracetamol untuk mengatasi nyeri
5)      Tutuplah luka dengan kain kassa kering, usahakan agar satu sudut dari kassa dimasukkan agar tetap terbuka, sehingga nanah dapat keluar
6)      Bersihkan alat-alat
7)      Pesankan agar ganti perban
g.      Terapi antibiotika dan antiseptic diberikan tergantung pada luas dan beratnya penyakit. Misalnya dengan pemberian Achromyem 250 mg atau 4 kali per hari
h.      Bila furunkel terjadi secara menetap atau berulang atau dalam jumlah yang banyak maka kenali faktor prediposisi adanya diabetes militus
2.4  Milliariasis
1.      Definisi
Milliariasis disebut juga sudamina, liken tropikus, biang keringat, keringat buntet, atau prickle heat. Milliariasis adalah dermatosis yang disebabkan oleh retensi keringat akibat tersumbatnya pori kelenjar keringat.
2.      Etiologi
Penyebab terjadinya milliariasis ini adalah udara yang panas dan lembab serta adanya infeksi bakteri.
3.      Patofisiologi
Patofisiologi terjadinya milliariasis diawali dengan tersumbatnya pori-pori kelenjar keringat, sehingga pengeluaran keringat bertahan. Tertahannya pengeluaran keringat ini ditandai dengan adanya vesikel miliar di muara kelenjar keringat lalu disusul dengan timbulnya radang atau odema akibat perspirasi yang tidak dapat keluar yang kemudian diabsorpsi oleh stratum korneum.
Milliariasis sering terjadi pada bayi prematur karena proses diferensiasi sel epidermal dan apendiks yang belum sempurna. Kasus milliariasis terjadi pada 40-50% bayi baru lahir. Muncul pada usia 2-3 bulan pertama dan akan menghilang dengan sendirinya pada 3-4 minggu kemudian. Terkadang kasus ini menetap untuk beberapa lama dan dapat menyebar pada daerah sekitarnya.
4.      Tanda gejala
Gejala dan Tanda Milliariasis
Milliariasis pada bayi baru lahir memiliki gejala atau tanda sebagai berikut:
a.       Bintik kemerahan yang terjadi pada kulit bayi
b.      Bayi rewel.
Ada dua tipe milliariasis, yaitu milliaria kristalina dan miliiaria rubra:
1.      Milliiaria kristalina
Milliaria kristalina ini timbul pada pasien yang mengalami peningkatan jumlah keringat, sepert pase demam yang terbaring ditempat tidur. Lesinya berupa vesikel yang sangat superficial, bentuknya kecil, dan menyerupai bintik embun berukuran 1-2mm. Umumnya, lesi ini timbul setelah keringat, vesikel mudah pecah karena trauma yang paling rendah, misalnya akibat gesekan dengan pakaian. Vesikel yang pecah bewarna jernih dan tanpa reaksi peradangan, asimptomatik, dan berlangsung singkat. Biasannya tidak ada keluhan dan dapat sembuh dengan sendirinya.
2.      Milliaria rubra
Milliaria rubra memiliki gambaran berupa papula vesikel dan eritema disekitarnya. Keringat menembus epidermis. Biasannya, disertai rasa gatal dan pedih pada daerah ruam dan daerah disekitarnya, sering juga diikuti dengan infeksi sekunder lainnya dan juga dapat menyebabkan timbulnya impetigo dan furunkel.
5.      Penatalaksanaan
Asuhan yang diberikan pada neonatus, bayi, dan balita dengan milliaria begantung pada beratnya penyakit dan keluhan yang dialami. Asuhan yang umum diberikan adalah sebagai berikut:
1.      Prinsip asuhan adalah mengurangi penyumbatan keringat dan menghilangkan sumbatan yang sudah timbul.
2.      Jaga kebersihan tubuh bayi.
3.      Upayakan untuk menciptakan lingkungan dengan kelembapan yang cukup serta suhu yang cukup dan kering, misalnya pasien tinggal diruangan ber-AC atau didaerah yang sejuk dan kering.
4.      Gunakan pakaian yang menyerap keringat dan tidak terlalu sempit
5.      Segera ganti pakaian yang basah dan kotor.
6.      Pada miliiaria rubra yang diberikan bedak salisil 2% dengan menambahkan menthol 0,5-2% yang bersifat mendinginkan ruang.






















BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Diaper rash adalah pada kulit bayi akibat adanya kontak yang terus menerus dengan lingkungan yang tidak baik. Sebhorrea Adalah radang berupa sisik yang berlemak dan eritema pada daerah yang terdapat banyak kelenjar sebaseanya, biasanya di daerah kepala. Furunkel (boil dan isul) adalah peradangan pada folikel ramut pada kulit dan jaringan sekitarnya yang sering terjadi pada daerah bokong, kuduk, aksila, badan dan tangkai furunkel dapat terbentuk pada lebih dari satu tempat yang biasa disebut dengan furunkulosis. Milliariasis disebut juga sudamina, liken tropikus, biang keringat, keringat buntet, atau prickle heat. Milliariasis adalah dermatosis yang disebabkan oleh retensi keringat akibat tersumbatnya pori kelenjar keringat.
3.2  Saran
Dengan adanya makalah ini di harapkan pembaca khususnya bidan dapat menerapkan hak dan kewajiban dalam melayani persalinan dan dapat  mencari referensi lain untuk menambah pengetahuan dalam melayani persalinan dengan baik sesuai dengan kewenangannya tidak melebihi batasan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar