BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Asuhan kebidanan adalah perawatan yang diberikan
bidan. Jadi, asuhan kebidanan pada neonatus, bayi, dan balita adalah perawatan
yang diberikan oleh bidan pada bayi baru lahir, bayi, dan balita. Neonatus,
bayi, dan balita dengan masalaah adalah suatu penyimpangan yang daat
menyebabkan gangguan pada neonatus, bayi, dan balita apabila tidak diberikan
asuhan yang tepat dan benar. Ada beberapa masalah yang lazim terjadi
diantaranya adalah adanya diaper rash, sebhorrea, furunkel, dan milliariasis.
1.2 Tujuan Umum
Mengetahui penyulit dan komplikasi neonatus, bayi, balita, dan anak
prasekolah.
1.3 Tujuan Khusus
1.
Mengetahui
tentang diaper rash
2. Mengetahui tentang Sabhorrea
3. Mengetahui tentang Furunkel (Bisul)
4. Mengetahui tentang Milliariasis
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Diaper
Rash
1.
Definisi
Diaper rash adalah
pada kulit bayi akibat adanya kontak yang terus menerus dengan lingkungan yang
tidak baik.
2.
Etiologi
Inflamasi
dilapisan teratas kulit, disebabkan kontak langsung dnegan suatu zat, dibagi menjadi
2 subtipe : demmatitis kontak iritan dan dermatitis kontak alergi. Dermatitis kontak iritan umum terjadi dan terlihat setelahn permukaan
kulit terpajan oleh bahankimia iritatif atau terpajan berulang pada zat yang
menyebabkan kulit kering. Dermatitis
kontak alergi merupakan reaksi
imunitas selular. Antigen, atau hapten yang terlibat dalam dermatitis kontak
alergi berpenetrasi kedalam epidermis dan terikat oleh sel-sel Langerhans, yang
merupakan Antigen-presenting cells di kulit. Hapten dipresentasikan di limfosit
T, dan diikuti reaksi imun selanjutnya. Dermatitis kontak popok adalah masalah
yang umum dan dialami lebih kurang 10% bayi antara usia 0 dan 2 tahun (Nelson, 2014)
a)
Tidak terjaganya kebersihan kulit dan
pakaian bayi.
b)
Jarangnya mengganti popok setelah bayi BAB
dan BAK.
c)
Terlalu panas atau lembabnya udara/suhu
lingkungan.
d)
Tingginya frekuensi BAB (diare).
e)
Adanya reaksi kontak terhadap karet,
plastik, dan deterjen.
3.
Patofisiologis
Urin akan meningkatkan pH kulit melalui pemecahan urea menjadi
amonia. Peninggian pH kulit ini akan meningkatkan aktifitas enzim protease dan
lipase sehingga terjadi kerusakan sawar kulit. Rusaknya sawar kulit akan
meningkatkan permeabilitas kulit sehingga memudahkan mikroorganisme dan
bahan-bahan iritan/alergen masuk melalui kulit dan menimbulkan gangguan
dikulit.
4.
Tanda
dan Gejala
Dermatitis
kontak iriran ditandai dengan plak merah berbatas tegas dan plek dengan skuama
sekunder. Erusi terlokalisasi pada permukaan kulit yang terpajan oleh iritan.
Dermatitis iritan popok berdistribusi di regio perianal dan bokong, area yang
terpajan berulang kali dengan urin dan feses. Dermatitis kontak iritan juga
terlihat sering dipermukaan dorsal tangan pasien yang berulang kali mencuci
tangan mereka dengan sabun yang mengiritasi. Dermatitis konta alergi biasanya
akut dan reaksi berat terbatas pada daerah yang terpajan. Lesi awal adalah
bercak gatal, erah terang, sering kali linier atau konfigurasi tidak beraturan,
serta berbatas tegas. Didalam bercak terdpat vesikel bening dan bula hemoragik (serosanguineus). Gejala dan tanda
penyakit ini dapat tertunda sampai 7-14 hari setelah pejanan apaila pasien
belum pernah tersensitisasi sebelumnya. Pada pejanan berulang, gejala terjadi
pada hitungan jam dan pada umumnya lebih parah. Erupsi mungkin bertahan
mingguan (Nelson, 2014)
a.
Iritasi pada kulit yang kontak langsung
dengan alergi, sehingga muncul eritema.
b.
Erupsi pada daerah kontak yang menonjol,
seperti bokong, alat genital, perut bawah, atau paha atas.
c.
Pada keadaan yang lebih parah dapat
terjadi papilla eritematosa, vesikula, dan ulserasi.
5.
Penatalaksanaan
Steroids
topikal efektif dalam terapi dermatitis kontak iritan dan alergi. Steroids
potensi kuat mungkin dibutuhkan untuk reaksi berat dermatitis konta alergi.
Antihistain oral atau kortikodteroids oral dapat dibutuhkan untuk mengatasi
gatal. Terapi ruam popok akibat Candida mencakup krim atau salap nistatin topikal, krim
klotrimazol1% atau salap mikonazol 2%. Oral trush yang menyertai sebaikya
diterapi dengan larutan nistati oral atau gentian violet toikal. Lesi dengan
inflamasi berat dapat diberi terapi tambahan hidrokortison 1% topikal jangka
pendek (1-2 hari). Hidrokortison 2,5% seringkali ditambahkan kedalam obat
antijamur topikal untuk mengobati komponen iritan dermatitis popok bila infeksi
jamur ditemukan bersamaan (Nelson, 2014)
1.
Daerah yang terkena ruang popok, tidak
boleh terkena air dan harus dibiarkan terbuka dan tetap kering.
2.
Gunakan kapas halus yang mengandung minyak
untuk membersihkan kulit yang iritasi.
3.
Segera bersihkan dan keringkan bayi
setelah BAB atau BAK.
4.
Atur posisi tidur anak agar tidak menekan
kulit atau daerah yang iritasi.
5.
Usahakan memberikan makanan tinggi kalori
tinggi protein
(TKTP) dengan porsi cukup.
6.
Perhatikan kebersihan kulit dan tubuh
secara keseluruhan.
7.
Jagalah kebersihan pakaian dan alat-alat untuk
bayi.
8.
Rendamlah pakaian atau celana yang terkena
urine dalam air yang bercampur acidum borium, setelah itu bersihkan tetapi
jangan menggunakan sabun cuci, segera bilas dan keringkan.
2.2
Sebhorrea
1.
Definisi
Adalah
radang berupa sisik yang berlemak dan eritema pada daerah yang terdapat banyak
kelenjar sebaseanya, biasanya di daerah kepala
2. Etiologi
Dermatitis
seboroik adalah penyakit inflamasi kronik umum yang memiliki manifestasi klinis
berbeda pada usia yang berbeda. Area yang rentan terhadap dermatitis seboroik
meliputi kulit kepala dan batas kulit kepala berambut, alis, dasar bulu mata,
lipatan nasolabial, liang telinga luar, dan lipatan telinga posterior.
Dermatitis seboroik secara klasik muncul waktu bayi sebagai cradle cap atau dermatitis di daerah intertriginosa aksila,selangkangan,
fosa antekubiti dan popotilea dan umbilikus, dan saat remaja terlihat sebagai ketombe. Faktor genetik dan lingkungan
mempengaruhi awitan dan perjalanan klinis, sejajar dengan distribusi, ukuran
dan aktifitas kelenjar sebaseus, walaupun peranannya tidak pasti. Malassezia furfur dapat merupakan
penyebab (Nelson, 2014)
Belum di ketahui secara pasti, tetapi ada beberapa
ahli yang menyatakan beberapa faktor penyebab seborrhea, yaitu :
a.
Faktor hereditas, yaitu bisa disebabkan
karena adanya faktor keturunan orang tua
b.
Intake makanan yang berlemak dan berkalori
tinggi
c.
Asupan minuman beralkohol
d.
Adanya gangguan emosi
3.
Patofisiologis
Patofisiologi yang sebenarnya belum diketahui secara
pasti berdasarkan tempat prediksi. Kelainan ini diduga akibat disfungsi
kelenjar sebasea. Selain itu erat kaitannya dengan pengaruh hormon sisa
kehamilan ibunya. Karena itu dermatitis sebboroik atau sebhorrrea bisa sembuh
dalam waktu 8-12 bulan. Yaitu saat jumlah hormon tersebut berkurang. Kelainan
ini biasanya akan berulang pada dewasa muda.
Beberapa faktor (misalnya tingkat hormon, infeksi
jamur, defisit nutrisi, dan faktor neurogenik) berhubungan dengan keadaan ini.
Adanya masalah hormonal mungkin dapat menjelaskan mengapa keadaan ini muncul
pada bayi, hilang secaraa spontan, dan muncul kembali setelah pubertas. Pada
bayi dijumpai hormon transplasenta meninggi beberapa bulan setelah lahir dan
penyakitnya akan membaik bila kadar hormon ini menurun. Juga didapati bahwa
perbandingan komposisi lipid dikulit berubah. Jumlah kolesterol, trigliserida,
parafin meningkat dan kadar sequelen, asam lemak bebas dan wax ester menurun.
Keadaan ini diperparah dengan peningkatan keringat.
Strees emosional memberikan pengaruh yang jelek pada masa pengobatan. Obat-obet
neuroleptik seperti haloperidol dapat mencetuskan dermatitis seboroik serta
faktor iklim. Lessi seperti DS dapat nampak pada pasien defisiensi nutrisi,
contohnya defisiensi besi, defisiensi niasin, dan pada penyakit parkinson.
Sebhorrea juga terjadi pada defisiensi pyridoxine. Penelitian-penelitian
melaporkan adanya suatu jamur lipofilic, pleomorfik, malasssezea ovalis
(pityrosporum ovale), pada beberapa pasien dengan lesi pada kulit kepala
pityrosporum ovale dapat didapatkan pada kulit kepala yang normal.
4.
Tanda gejala
Dermatitis
seboroik pada bayi muncul sebagai cradle
cap yang dapat muncul pada bulan pertama kehidupan. Umumnya asimptomatik
kecuali penampilannya. Cradle cap terlihat
sebagai skuama dan krusta tebal, berlilin, kuning-putih pada kulit kepala
dengan skuama berminyak menempel. Kelainan ini biasanya menonjol pada daerah
verteks, namun dapat juga difus. Dermatitis berminyak, bersisi, eritematosa,
papular nonpruritik dapat meluas ke wajah, lipatan telinga posterior dan daerah
popok dan dapat mengenai seluruh tubuh. Intertriginosa dapat terjadi plak
eritrmatosa berbatas tegas dengan skuama kekuningan, berminyak, atau seperti
lilin. Eritema jelas terlihat, terutama bilaa erupsi menyebar ke wajah dan
tubuh. Hipopigmentasi dapat bertahan setelah inflamasi menghilang. Erupsi
umumnya asimptomatik, yang dapat membantu membedakannya dengan dermatitis
atopik infantil, adalah gatal. Dermatitik seboroik klasik saat remaja biasanya
terlokalisasi dikulit kepala dan daerah intertriginosa dan dapat mencakup
blefaritis dan liang telinga luar. Ketombe
(dandruf) adalah skuama halus, putih, kering dikulit kepala dengan rasa
gatal sedikit. Perubahan kulit kepala berfariasi dari skuama difus, keras
sampai krusta kekuningan tebal, berminyak dengan dasar eritematosa. Pruritus
dapat minimal atau parah. Plak seboroik pada tungkai berwarna merah muda dengan
hyperkeratosis, berbatas tegas, dan lebih luas daripada plak dermatitis atopik
(Nelson, 2014)
Dermatitis saboreik biasanya timbul secara bertahap,
menyebabkan sisik kering atau berminyak dikulit kepala atau ketombe, kadang
disertai gatal-gatal tetapi tanpa kerontokan rambut. Pada kasus yang lebih
berat, tibul bruntusan atau jerawat bersisik kekuningan sampai kemerahan
disepanjang garis rambut, dibelakang telinga, didalam saluran telinga, alis
mata, dan dada.
Pada bayi baru lahir yang berumur kurang dari satu
bulan, dermatitis seboroik menyebabkan ruam tebal berkeropeng berwarna kuning
dikulit kepala ( cradle cap) dan kadang tampak sebagai sisik berwarna kuning
dibelakang telinga atau bruntusan merah diwajah. Ruam dikulit kepala ini sering
disertai dengan ruam popok. Pada anak-anak dermatitis seboroik menyebabkan
timbulnya ruam yang tebal di kulit kepala yang sukar disembuhkan. Tanda dan
gejalanya :
1. Kulit tampak berminyak
2. Ruam tebal berkeropeng berwarna kuning dikepala
(cradle cap)
3. Kadang tampak seperti sisik dibelakang telinga
4. Tampak erytrema, ketombe
5. Perasaan gatal yang hebat
6. Bayi biasanya rewel
7. Gatal
8. Kemerahan.
5. Penatalaksanaan
Sebagian kecil skuama dermatitis seboroik
dapat mudah dilepas dengan keramas lebih sering. Untuk segala usia, keramas
harian dengan zinc pyrithionr, selenium
sulfida 1% sampai 2,5%, atau asam salisilat dapat mengobati skuama kulit
kepala. Dermatitis seboroik dengan lesi inflamasi berespons dengan cepat pada
terapi steroid potensi rendah dua sampai empat kali sehari selama 3 sampai 5
kali. Kompres basah harus dilakukan pada plak basah (eksudatif) atau
pecah-pecah sebelum pemakaian salap kortikosteroids. Respon terapi biasanya
cepat. Infeksi bakteri sekunder dapat terjadi tapi jarang. Penyakit membande
dan komplikasi lain membutuhkan evaluasi lebih lanjut untuk etiologi lainnya
(Nelson, 2014)
a.
Secara kasual belum diketahui
b.
Topical, shampoo yang tidak berbusa 2-3x per minggu dan krim selemum
sulfide/Hg-presipirtatus albus 2%
2.3 Furunkel (Bisul)
1. Definisi
Furunkel (boil dan isul) adalah peradangan pada
folikel ramut pada kulit dan jaringan sekitarnya yang sering terjadi pada
daerah bokong, kuduk, aksila, badan dan tangkai furunkel dapat terbentuk pada
lebih dari satu tempat yang biasa disebut dengan furunkulosis.
2. Etiologi
Furunkel
terdapat disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah :
a.
Iritasi pada kulit
b.
Kebersihan kulit yang kurang terjaga
c.
Daya tahan tubuh yang rendah
d.
Infeksi oleh staphylococcus aureus
3. Patofisiologi
Infeksi dimulai dari peradangan pada folikel rambut
ada kulit (folikulitiis) yang menyebar pada jaringan sekitarnya. Radang nanah
yang dekat sekali dengan kulit disebut pustule. Kulit diatasnya sangat tipis,
sehingga nanah di dalamnya dapat dengan mudah mengalir keluar. Sedangkan
bisulnya sendiri berada pada daerah kulit yang lebih dalam. Kadang-kadang nanah
yang berada pada bisul diserap sendiri oleh tubuh tetapi lebih sering mengalir
sendiri melalui lubang pada kulit.
4. Gejala klinis
Gejala yang timbul dari adannya furunkel berfariasi
tergantung dari beratnya penyakit. Gejala yang sering ditemui pada furunkel
adalah :
a.
Nyeri pada daerah ruam
b.
Ruam pada daerah kulit berubah nodus
eritematosa yang berbentuk kerucut dan memiliki pustule
c.
Nodul dapat melunak menjadi akses yang
berisi pus dan jaringan nekrotik yang dapat pecah membentuk fistel dan keluar
melalui lobus minoris resistenstae
d.
Setelah seminggu kebanyakan akan pecah
sendiri dan sebagian dapat menghilang dengan sendirinya.
5. Penatalaksanaan
Asuhan yang diberikan pada neonatus dengan furunkel
tergantung pada keadaan penyakit yang di alaminya. Asuhan yang lazim diberikan
adalah :
a.
Kebanyakan furunkel tidak membutuhkan
pengobatan dan akan sembuh dengan sendirinya
b.
Pemeliharaan kebersihan daerah yang
mengalami furunkel serta daerah sekitarnya
c.
Pengobatan topikal, lakukan kompres hangat
untuk mengurangi nyeri dan melunakkan nodul. Kompres hangat dapat dilakukan
sambil menutup ruam untuk mencegah penularan ke daerah lainnya
d.
Jangat memijat furunkel terutama di daerah
hidung dan bibir atas karena dapat menyebabkan penyebaran kuman secara
hematogen
e.
Bila furunkel terjadi di daerah yang
janggal seperti pada hidung atau telinga maka dapat berkolaborasi dengan dokter
untuk melakukan insisi
f.
Jika memungkinkan dapat membuka bisul
dengan cara :
1)
Beri penjelasan apa yang akan dilakukan
atau inform consent
2)
Minta seseorang untuk memegangi anak
3)
Ambilah sebuah pisau bedah yang steril dan
bukalah bisul dengan segera pada puncaknya saja. Kemudian masukkan penjepit
dalam luka dan bukalah penjepitnya. Dengan cara ini, akan membuka jalan keluar
untuk nanah tanpa mengganggu sesuatu pisau bedah jangan sampai masuk ke dalam
karena dapat melukai pembuluh darah syaraf
4)
Pembeian analgetik, misalnya aspirin atau
paracetamol untuk mengatasi nyeri
5)
Tutuplah luka dengan kain kassa kering,
usahakan agar satu sudut dari kassa dimasukkan agar tetap terbuka, sehingga
nanah dapat keluar
6)
Bersihkan alat-alat
7)
Pesankan agar ganti perban
g.
Terapi antibiotika dan antiseptic
diberikan tergantung pada luas dan beratnya penyakit. Misalnya dengan pemberian
Achromyem 250 mg atau 4 kali per hari
h.
Bila furunkel terjadi secara menetap atau
berulang atau dalam jumlah yang banyak maka kenali faktor prediposisi adanya
diabetes militus
2.4 Milliariasis
1. Definisi
Milliariasis disebut juga sudamina, liken tropikus,
biang keringat, keringat buntet, atau prickle heat. Milliariasis adalah
dermatosis yang disebabkan oleh retensi keringat akibat tersumbatnya pori
kelenjar keringat.
2. Etiologi
Penyebab
terjadinya milliariasis ini adalah udara yang panas dan lembab serta adanya
infeksi bakteri.
3. Patofisiologi
Patofisiologi terjadinya milliariasis diawali dengan
tersumbatnya pori-pori kelenjar keringat, sehingga pengeluaran keringat
bertahan. Tertahannya pengeluaran keringat ini ditandai dengan adanya vesikel
miliar di muara kelenjar keringat lalu disusul dengan timbulnya radang atau
odema akibat perspirasi yang tidak dapat keluar yang kemudian diabsorpsi oleh
stratum korneum.
Milliariasis sering terjadi pada bayi prematur karena
proses diferensiasi sel epidermal dan apendiks yang belum sempurna. Kasus
milliariasis terjadi pada 40-50% bayi baru lahir. Muncul pada usia 2-3 bulan
pertama dan akan menghilang dengan sendirinya pada 3-4 minggu kemudian.
Terkadang kasus ini menetap untuk beberapa lama dan dapat menyebar pada daerah
sekitarnya.
4.
Tanda gejala
Gejala dan Tanda
Milliariasis
Milliariasis pada bayi
baru lahir memiliki gejala atau tanda sebagai berikut:
a.
Bintik kemerahan yang terjadi pada kulit
bayi
b.
Bayi rewel.
Ada
dua tipe milliariasis, yaitu milliaria kristalina dan miliiaria rubra:
1.
Milliiaria kristalina
Milliaria
kristalina ini timbul pada pasien yang mengalami peningkatan jumlah keringat,
sepert pase demam yang terbaring ditempat tidur. Lesinya berupa vesikel yang
sangat superficial, bentuknya kecil, dan menyerupai bintik embun berukuran
1-2mm. Umumnya, lesi ini timbul setelah keringat, vesikel mudah pecah karena
trauma yang paling rendah, misalnya akibat gesekan dengan pakaian. Vesikel yang
pecah bewarna jernih dan tanpa reaksi peradangan, asimptomatik, dan berlangsung
singkat. Biasannya tidak ada keluhan dan dapat sembuh dengan sendirinya.
2.
Milliaria rubra
Milliaria
rubra memiliki gambaran berupa papula vesikel dan eritema disekitarnya.
Keringat menembus epidermis. Biasannya, disertai rasa gatal dan pedih pada
daerah ruam dan daerah disekitarnya, sering juga diikuti dengan infeksi
sekunder lainnya dan juga dapat menyebabkan timbulnya impetigo dan furunkel.
5. Penatalaksanaan
Asuhan
yang diberikan pada neonatus, bayi, dan balita dengan milliaria begantung pada
beratnya penyakit dan keluhan yang dialami. Asuhan yang umum diberikan adalah
sebagai berikut:
1.
Prinsip asuhan adalah mengurangi penyumbatan
keringat dan menghilangkan sumbatan yang sudah timbul.
2.
Jaga kebersihan tubuh bayi.
3.
Upayakan untuk menciptakan lingkungan
dengan kelembapan yang cukup serta suhu yang cukup dan kering, misalnya pasien
tinggal diruangan ber-AC atau didaerah yang sejuk dan kering.
4.
Gunakan pakaian yang menyerap keringat dan
tidak terlalu sempit
5.
Segera ganti pakaian yang basah dan kotor.
6.
Pada miliiaria rubra yang diberikan bedak
salisil 2% dengan menambahkan menthol 0,5-2% yang bersifat mendinginkan ruang.
BAB
III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Diaper rash adalah
pada kulit bayi akibat adanya kontak yang terus menerus dengan lingkungan yang
tidak baik. Sebhorrea Adalah radang berupa sisik yang
berlemak dan eritema pada daerah yang terdapat banyak kelenjar sebaseanya,
biasanya di daerah kepala.
Furunkel
(boil dan isul) adalah peradangan pada folikel ramut pada kulit dan jaringan
sekitarnya yang sering terjadi pada daerah bokong, kuduk, aksila, badan dan
tangkai furunkel dapat terbentuk pada lebih dari satu tempat yang biasa disebut
dengan furunkulosis. Milliariasis
disebut juga sudamina, liken tropikus, biang keringat, keringat buntet, atau
prickle heat. Milliariasis adalah dermatosis yang disebabkan oleh retensi
keringat akibat tersumbatnya pori kelenjar keringat.
3.2 Saran
Dengan adanya makalah ini di harapkan pembaca khususnya
bidan dapat menerapkan hak dan kewajiban dalam melayani persalinan dan
dapat mencari referensi lain untuk
menambah pengetahuan dalam melayani persalinan dengan baik sesuai dengan
kewenangannya tidak melebihi batasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar