Jumat, 21 April 2017

membina komunikasi



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Angka kematian di Indonesia masih tinggi. Setiap tahun sejumlah 18.000 ibu meninggal dunia, dua nyawa melayang setiap satu jam, karena kehamilan dan atau persalinan. Kematian ibu ternyata tidak hanya diikuti oleh tinginya angka kematian bayi tetapi juga meningkatkan jumlah balita yang piatu baru (± 36.000 setiap tahun).

Risiko kematian ibu akibat kehamilan, persalinan, dan nifas serta bayi, dapat dikurangi bila ada upaya persiapan persalinan dan kemudahan mendapatkan pelayanan kesehatan dasar. Salah satu ujung tombak pelayanan kesehatan dasar bagi ibu dan bayi adalah Bidan.  Tetapi, pada kenyataannya walaupun hampir semua pemeriksaan antenatal datang pada bidan, sebagian besar persalinan masih ditolong oleh dukun beranak. Hal ini menunjukkan bahwa ibu lebih percaya kepada dukun beranak dibandingkan Bidan.

Salah satu penyebab keadaan tersebut adalah rendahnya kualitas keterampilan dalam membina hubungan baik sikap dan perilaku dasar yang dibutuhkan belum terlaksana  dengan baik. Dalam memberikan asuhan kepada ibu dan bayi tidak cukup dengan ketermpilan teknis medis semata, kualitas komunikasi bidan yang rendah akan berdampak terhadap transfer pesan keada klien yang kurang baik, bidan menjadi kurang peka dan kurang mampu menggali kebutuhan dan masalah klien, tidak tanggap terhadap perasaan klien, klien merasa tidak puas dan selanjutnya dapat diperkirakan kredibilitas bidan tersebut diragukan.

Pelatihan keterampilan berkomunikasi untuk bidan sangatlah penting dan mempunyai tujuan untuk meningkatkan keterampilan bidan dalam bidang komunikasi intrapersonal dan public sehingga kualitas pelayanan pada ibu hamil dan melahirkan menjadi lebih baik.



1.2  Tujuan Umum
Memahami pentingnya kualitas keterampilan dalam membina hubungan baik sikap dan perilaku dasar yang dibutuhkan oleh klien

1.3  Tujuan Khusus
1.        Memahami keterampilan membina hubungan baik
2.        Memahami kemampuan bertanya
3.        Memahami keterampilan observasi






















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 keterampilan membina hubungan baik
          Dalam konseling, bidan yang baik adalah bidan yang selalu berusaha untuk membina hubungan baik dengan klien. Dan ini akan terjadi bila ada kerjasama diantara keduanya. Keterampilan membina hubungan baik merupakan dasar dari proses komunikasi interpersonal bidan dengan klien, dengan petugas kesehatan yang lain, tokoh masyarakat dan sebagainya. Dalam membina hubungan baik perlu memberikan dukungan atau motivasi kepada klien.
a.       Tiga hal penting yang harus diperhatikan agar hubungan baik mantap.
1)      Menunjukkan tanda perhatian verbal
2)      Menjalin kerjasama
3)      Memberikan respon yang positif

b.      Sikap dan perilaku dasar yang dibutuhkan
Keterampilan membina hubungan baik merupakan dasar dari komunikasi interpersonal. Membina hubungan baik bisa kita awali dengan sikap hangat, menghormati, menerima klien apa adanya, empati, dan tulus. Hubungan baik harus dimulai sejak awal hubungan dan tetap dipertahankan seterusnya. Perilaku bidan yang mendukung terciptanya hubungan baik antara lain : memberi salam dengan ramah, mempersilahkan duduk, tidak memotong pembicaraan, menjaga kerahasian klien, tidak menilai klien dll. Selain itu sikap yang perlu dimiliki adalah SOLER yang merupakan singkatan dari :
S : face your squaerly (menghadap ke klien) dan (nod at client senyum atau mengangguk ke klien)
O : open and non judgemental facial exspressio (ekspresi muka menunjukkan sikap terbuka dan tidak menilai)
L : lean toward client/tubuh condong ke klien
E : eye contact in aculturally acceptable manner/kontak mata sesuai cara, budaya setempat.
R : relaxed and freindy manner (santai dan sikap bersahabat)

c.       Beberapa sikap yang  bisa diamati dalam membina hubungan baik
No.
Tingkah laku yang diamati
Ya
Tidak
Catatan
1
Menyediakan lingkungan fisik yang dapat membuat klien merasa nyaman



2
Menyambut dan mempersilahkan duduk



3
Duduk menghadap klien



4
Senyum dan mengangguk



5
Ekspresi wajah menunjukkan mendengar dengan penuh perhatian



6
Tubuh condong ke klien



7
Kontak mata/ tatapan mata sesuai yang di terima budaya setempat



8
Santai dan sikap bersahabat



9
Volume suara memadai



10
Intonasi dan kecepatan berbicara memadai



11
Memberi pujian/ dukungan



12
Menyampaikan akan menjaga kerahasiaan



13
Tidak menginterupsi/ memotong pembicaraan klien



14
Tidak melakukan penilaian (menyalahkan, komentar negatif)



15
Menanyakan alasan kedatangan klien



16
Menghargai apapun pertanyaan maupun endapat klien






d.      Mendengar aktif
Menjadi pendengar aktif bagi konselor sangat penting karena :
1.      Menunjukkan kepedulian
2.      Merangsang dan memberikan klien bereaksi secara spontan kepada konselor
3.      Menimbulkan situasi yang mengajarkan
4.      Klien membutuhkan gagasan-gagasan baru
Untuk mencapai tujuan dari komunikasi perlu saling memahami dan saling mendengarkan, dalam komunikasi terapeutik bidan perlu mempelajari ketrampilan mendengar. Dalam komunikasi terapeutik bidan perlu mempelajari mendengar aktif. Untuk menjadi pendengar yang baik konselor harus memiliki kemampuan sebagai berikut:
1)      Mampu berhubungan dengan orang diluar kalangannya
2)      Mempunyai cara-cara untuk membantu klien
3)      Memperlakukan klien untuk menimbulkan respon yang bermakna
4)      Bertanggungjawab bersama klien untuk konseling
Dalam komunikasi interpersonal konseling ada empat bentuk mendengarkan yang bisa digunakan sesuai situasi yang dihadapi.
1)      Mendengar pasif (diam)
Mendengarkan memerlukan ketrampilan dan latihan yang terus menerus, dengan mendengarkan kita akan memperoleh informasi yang lengkap dari klien. Meskipun ini memerlukan kesabaran. Di indonesia mendengar pasif biasanya dilakukan saat klien menceritakan masalahnya, berbicara tanpa henti, menggebu-gebu dengan perasaan kesal atau sedih, saat klien berhenti bicara sejenak, konselor dapat diam untuk memberi kesempatan klien berpikir dan menenangkan diri.
2)      Memberi tanda perhatian verbal
Konselor perlu memberikan respon pada klien dengan menggunakan kata-kata atau perhatian verbal. Hal ini dilakukan dengan memberikan motivasi pada klien agar semangat dalam berbicara.
3)      Membuka pembicaraan, undangan untuk berbicara (mengajukan pertanyaan untuk mendalami dan klarifikasi)
Mengajukan pertanyaan dilakukan apabila konselor belum puas dengan jawaban yang diberikan klien, perlu klarifikasi mengenai hal yang diungkapkan klien, menandakan konselor mengikuti alur pembicaraan klien.
4)      Mendengar aktif
Memberikan umpan balik atau mereflesikan isi ucapan dan perasaan yaitu merangkum.
2.2 Kemampuan Bertanya
Bertanya merupakan ketrampilan yang cukup penting dan strategis dalam proses komunikasi baik dalam memulai, selama proses ataupun dalam mengakhiri. Ketrampilan bertanya dapat dikembangkan dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
1.      Perhatikan suasana konseling klien
2.      Kuasai materi yang berkaitan dengan pertanyaan
3.      Ajukan pertanyaan dengan cara yang jelas dan terarah, serta tidak keluar dari topik
4.      Segera beri respon atau umpan balik terhadap jawaban pertanyaan yang diajukan dengan sikap yang baik dan empati.

Jenis-jenis pertanyaan sebagai berikut:
1.      Pertanyaan tertutup: pertanyaan tertutup yang jawabannya sudah pasti dan ini biasanya membutuhkan jawaban’’ iya atau tidak” untuk mengumpulkan informasi yang faktual (biasanya diawal percakapan).
2.      Pertanyaan terbuka: merupakan pertanyaan yang menuntut jawaban yang memungkinkan adanya berbagai macam jawaban, dan memberi kebebasab menjawab pada klien. Ini akan menuntut partisipasi aktif dari klien dan merupakan cara efektif untuk menggali informasi dari klien.
3.      Pertanyaan mendalam: dimaksudkan untuk menggali lebih mendalam apa yang sudah diungkapkan oleh klien, sehingga informasi didapat secara lengkap dan mendetail. Melengkapi dan menggali lebih dalam hal-hal yang diperlukan, terutama yang bersifat privasi untuk melakukan ini memerlukan pendekatan dan keakraban dan didasarkan saling percaya dimana ini memerlukan teknik yang khusus agar tidak biasa.
4.      Pertanyaan mengarahkan/sugestis: mengarahkan berarti bidan mengarahkan apa yang dibicarakanklien. Tidak selalu tepat digunakan pada berbagai kondisi. Pertanyaan mengarahkan ini sebaiknya dihindari oleh bidan dan biarkan klien mengungkapkan perasaannya secara spontan.
Bertanya efektif: ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan agar bidan bisa bertanya secara efektif: gunakan intonasi suara yang menunjukkan perhatian, minat dan keakraban
Untuk mencapai tujuan dari komunikasi perlu saling memahami dan saling mendengarkan. Dalam komunikasi terapeutik bidan perlu mempelajari keterampilan mendengar aktif.
Untuk menjadi pendengar yang baik konselor harus memiliki kemampuan sebagai berikut :
1)       Mampu berhubungan dengan orang diluar kalangannya
2)       Mempunyai cara- cara untuk membantu klien
3)       Memperlakukan klien untuk menimbulkan respon yang bermakna
4)       Bertanggung jawab bersama klien dalam konseling

Dalam komunikasi interpersonal konseling ada 4 bentuk mendengarkan yang bisa digunakan sesuai situasi yang dihadapi
1)       Mendengar pasif ( diam )
Mendengarkan memerlukan keterampilan dan latihan yang terus-menerus, dengan mendengarkan kita akan memperoleh informasi yang lengkap dari klien. Meskipun ini memerlukan kesabaran. Di Indonesia mendengar pasif biasanya dilakukan saat klien menceritakan masalahnya, berbicara tanpa henti, mengebu- gebu dengan perasaan kesal atau sedih, saat klien berhenti bicara sejenak, konselor dapat diam untuk memberi kesempatan klien berpikir dan menenangkan diri.
2)      Memberi tanda perhatian verbal
Konselor perlu memberikan respon pada klien dengan menggunakan kata- kata atau
perhatian verbal. Hal ini dilakukan untuk memberikan motivasi pada klien agar semangat dalam berbicara.
3)      Membuka pembicaraan, undangan untuk berbicara (mengajukan pertanyaan untuk
            mendalami dan klarifikasi)
Mengajukan pertanyaan dilakukan apabila konselor belum puas dengan jawaban
yang diberikan klien, perlu klarfikasi mengenai hal yang diungkapkan klien, menandakan konselor mengikuti alur pembicaraan klien.
4)      Mendengar aktif : memberikan umpan balik/ merefleksikan isi ucapan dan perasaan yaitu
merangkum, merefleksikan isi uacapan ( paraphrasing ) dan refleksi perasaan.

Keterampilan bertanya dapat dikembangkan dengan memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
1)       Perhatikan suasana konseling klien
2)       Kuasai materi yang berkaitan dengan pertanyaan
3)       Ajukan pertanyaan dengan cara yang jelas dan terarah, serta tidak keluar dari topik
4)       Segera beri respon/ umpan balik terhadap jawaban pertanyaan yang diajukan dengan sikap yang baik dan empati.



Jenis pertanyaan :
1)      Pertanyaan tertutup : pertanyaan tertutup yang jawabannya sudah pasti dan ini biasanya hanya membutuhkan jawaban “ ya atau Tidak’ untuk mengumpulkan informasi yang faktual ( biasanya diawal percakapan ).
2)      Pertanyaan terbuka : merupakan pertanyaan yang menuntut jawaban yang menungkinkan adanya berbagai macam jawaban, dan memberi kebebasan menjawab pada klien. Ini akan menuntut partisipasi aktif dari klien dan merupakan cara efektif untuk menggali informasi dari klien.
3)      Pertanyaan mendalam : dimaksudkan untuk menggali lebih mkendalam apa yang sudah diungkapkan oleh klien, sehingga informasi didapat secara lengkap dan mendetail. Melengkapi dan menggali lebih dalam hal- hal yang diperlukan, terutama yang bersifat privasi, untuk melakukan ini memerlukan pendekatan dan keakraban dan didasarkan saling percaya, dimana ini memerlukan teknik yang khusus agar tidak bias.
4)      Pertanyaan mengarahkan/sugestif : mengarahkan berarti Bidan mengarahkan apa yang dibicarakan klien. Tidak selalu tepat digunakan pada berbagai kondisi. Pertanyaan mengarahkan ini sebaiknya dihindari oleh Bidan dan biarkan klien mengungkapkan perasaannya secara spontan.
Bertanya efektif :
Ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan agar Bidan bisa bertanya secara efektif :
1)      Gunakan intonasi suara yang menunjukkan perhatian, minat dan keakraban. Jangan terlalu cepat/lambat atau terlalu keras/ lemah. Karena suara yang terlalu lemah dan lambat akan susah didengar dan sering membuat ngantuk karena seolah- olah kita dibuai oleh suara seperti itu. Begitu pula suara yang terlalu keras akan membuat telinga sakit dan mengurangi konsentrasi untuk mendengar.
2)      Gunakan kata- kata yang difahami klien, karena bahsa- bahasa ilmiah yang tidak dipahami klien tidak akan bisa terjadi atau bahkan menyebabkan salah arti. Ini sering terjadi pada bidan- bidan diawal pekerjaannya. Istilah- istilah kebidanan sering digunakan untuk berkomunikasi dengan klien yang tidak memahami istilah tersebut.
3)      Ajukan pertanyaan satu persatu. Jangan mengajukan beberapa pertanyaan sekaligus. Karena ini tidak efektif kadang klien hanya ingat pertanyaan yang terakhir saja sehingga kita harus mengulang- ulang lagi. Sehingga ajukan pertanyaan satu persatu agar bisa terjawab sesuai apa yang kita butuhkan.
4)      Tunggu jawaban dengan penuh minat, jangan memotong. Biarkan klien menyelesaikan kalimatnya karena pemotongan ditengah kalimat bisa menimbulkan salah persepsi.
5)      Gunakan kata- kata yang mendorong klien untuk tetap bicara. Dengan demikian klien merasa diperhatikan dan lebih semangat untuk mengungkapkan pembicaraannya.
6)      Bila harus menanyakan hal yang sangat pribadi, jelaskan mengapa hal itu harus ditanya. Kadang- kadang klien malu untuk mengungkapkan dan menutupi hal- hal tersebut. Dengan penjelasan bahwa hal itu untuk tujuan penyembuhan dll maka klien akan mengungkapkan secara sukarela dan terbuka.
7)      Hindari penggunaan kata tanya “ mengapa “ karena kemungkinan kita dapat merasa disahkan. 
2.3 Keterampilan Observasi
          Bidan perlu mengamati tingkah laku pasien secara verbal dan non-verbal untuk mengidentifikasi pesan-pesan yang tidak sejalan (sinkron) dan campur aduk. Bidan  perlu menggabungkan informasi kedalam tiga kategori.

1.      Tingkah laku non-verbal klien
Cara menatap mata, bahasa tubuh, kualitas suara, merupakan indicator penting yang mengungkapkan apa yang sedang terjadi pada diri klien.
2.      Tingkah laku verbal klien
Kapan klien beralih topic apa saja kata-kata kunci, penjelasan-penjelasan yang disampaikan dan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan
3.      Kesenjangan pada diri klien
Seorang bidan yang tajam pengamatannya akan memperhatikan bahwa ada beberapa ketidaksesuaian antara tingkah laku verbal dan non-verbal antara dua buah pertanyaan, antara apa yang diucapkan dan apa yang dikerjakan.

Kita dapat belajar lebih peka terhadap tingkah laku non-verbal dan arti dari suatu tingkah laku verbal yang ditampilkan seorang klien. Misalkan klien berkata bahwa hubungannya dengan suami baik-baik (dengan raut muka yang penuh kesedihan dan ada sesuatu yang ditutup-tutupi). Harus ditelaah lebih lanjut arti dari ketidaksesuaian antara yang disampaikan (verbal) dengan ekspresi muka (non-verbal).



BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan

Jadi dapat disimpulkan bahwa keterampilan yang dimiliki bidan tidak hanya keterampilan teknis medis semata tetapi juga keterampilan untuk membina hubungan baik sikap dan perilaku dasar terhadap klien. Didalam membina hubungan yang baik dengan klien kita harus mengetahui Tiga hal penting yang harus diperhatikan agar hubungan baik, yaitu : Menunjukkan tanda perhatian verbal, Menjalin kerjasama, dan Memberikan respon yang positif.

3.2  Saran

Pada saat ini, dalam menerapkan keterampilan membina hubungan baik sikap dan perilaku dasar pada praktik kebidanan itu memang tidak mudah. Tapi, jika kita telah menguasai keterampilan berkomunikasi dan menjalin hubungan yang baik dengan klien, kita akan lebih mudah dalam memberikan asuhan yang seharusnya didapat oleh klien.