Kamis, 20 April 2017

persalinan



BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi dari rahim ibu melalui jalan lahir atau dengan jalan lain, yang kemudian janin dapat hidup di dunia luar. Persalinan normal (WHO) adalah dimulai secara spontan (dengan kekuatan ibu sendiri dan melalui jalan lahir), beresiko rendah pada awal persalinan dan presentasi belakang kepala pada usia kehamilan antara 37-42 minggu setelah persalinan ibu maupun bayi berada dalam kondisi baik. Tingginya kasus kematian dan kesakitan ibu di banyak negara berkembang, terutama disebabkan oleh perdarahan pascapersalinan. Sebagian besar penyebab utama kesakitan dan kematian ibu tersebut dapat dicegah upaya pencegahan yang efektif. Persalinan dimulai dari kala I hingga kala 1V. Dimana pada setiap kalanya terjadi perubahan-perbuhan fisiologis.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana perubahan fisiologis persalinan pada kala I ?
2.      Bagaimana perubahan fisiologis persalinan pada kala II?
3.      Bagaimana perubahan fisiologis persalinan pada kala III?
4.      Bagaimana perubahan fisiologis persalinan pada kala IV?
1.3  Tujuan
1.      Mengetahui perubahan fisiologis persalinan pada kala I.
2.      Mengetahui perubahan fisiologis persalinan pada kala II.
3.      Mengetahui perubahan fisiologis persalinan pada kala III.
4.      Mengetahui perubahan fisiologis persalinan pada kala IV.












BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1  Perubahan  Fisiologis Kala I
Selama rentan waktu dari adanya his sampai pembukaan lengkap (10) terjadi beberapa perubahan yang fisiologis. Perubahan fisiologis kala satu meliputi :
1.      Perubahan pada serviks
a.       Pendataran pada serviks atau effacement
Pendataran pada serviks adalah pemendekan dari kanalis servikalis yang semula berupa sebuah saluran sepanjang 1-2 cm, menjadi sebuah lubang saja dengan pinggir yang tipis.
b.      Pembukaan serviks
Pembukaan serviks disebabkan karena pembesaran ostium uteri externum ( OUE) karena otot yang melingkar disekitar ostium meregang untuk dilewati kepala. Pada pembukaan 10 cm atau pembukaan lengkap, bibir portio tidak teraba lagi, vagina dan SBR serviks telah menjadi satu saluran.
2.      Perubahan sistem kardiovaskuler
a.       Tekanan darah
Tekanan darah meningkat selama kontraksi uterus dengan kenaikan sistolik dengan rata-rata 10-20 mmHg dan kenaikan diastolik rata-rata 5-10 mmHg. Diantara kontraksi-kontraksi uterus, tekanan darah akan menurun seperti sebelum masuk persalinan dan akan naik lagi jika terjadi kontraksi. Posisi tidur terlentang selam persalinan akan mengakibatkan adanya penekanan uterus terhadap pembuluh dara besar (aorta), yang akan menyebabkan sirkulasi darah baik ibu maupun janin ibu akan terganggu, ibu biasa mengalami hipotensi dan janin dapat asfiksia. Rasa takut, nyeri, dan kekhawatiran bisa menaikan tekanan darah. Oleh karena itu dalam keadaan takut atau khawatir, pertimbangkanlah kemungkinan bahwa rasa takutnyalah yang menyebabkan tekanan darah tersebut.
b.      Denyut jantung
Denyut jantung meningkat selama kontraksi. Dalam posisi terlentang denyut jantung akan menurun. Denyut jantung antara kontraksi sedikit lebih tinggi dibanding selama periode segera sebelum persalinan. Hal ini mencerminkan kenaikan metabolisme selama persalinan. Selain itu peningkatan denyut jantung dapat dipengaruhi oleh rasa takut, tegang dan khawatir.


3.      Perubahan metabolisme
Selama persalinan baik metabolisme karbohidrat aerobik maupun anaerobik akan naik secara perlahan. Kenaikan ini sebagian besar disebabkan karena kecemasan serta kegiatan otot kerangka tubuh. Kegiatan metabolisme yang meningkat tercermin dari kenaikan suhu badan, denyut nadi, pernapasan, kardiak output dan kehilangan cairan.
4.      Perubahan sitem respirasi
Pada respirasi atau pernapasan terjadi kenaikan sedikit dibandingkan sebelum persalinan, hal ini disebabkan adanya rasa nyeri, kekhawatiran serta penggunaan teknik pernapasan yang tidak benar.
5.      Kontraksi uterus
Kontraksi uterus terjadi karena adanya rangsangan pada otot polos uterus dan penurunan hormon progesteron yang menyebabkan keluarnya hormon oksitosin. Kontraksi uterus dimulai dari fundus uteri dan terus menyebar kedepan dan kebawah abdomen, gerak his dengan masa yang terpanjang dan sangat kuat pada fundus adalah sumber dari timbulnya kontraksi pada pace maker.
6.      Pembentukan segmen atas rahim dan segmen bawah rahim
Segmen atas rahim (SAR) dibentuk oleh korpus uteri yang sifatnya aktif yaitu berkontraksi, dan dinding tambah tebal dengan majunya persalinan serta mendorong anak keluar. Segmen bawah uteri (SBR) terbentang di uterus bagian bawah atas ishmus, dengan servix serta sifat otot yang tipis dan elastis. Pada bagian ini banyak otot melingkar dan memanjang.
7.      Perubahan hematologist
Haemoglobin akan meningkat 1,2 gr atau 100 ml selama persalinan dan kembali ketingkat pra persalinan pada hari pertama setelah persalinan apabila tidak terjadi kehilangan darah selama persalinan. Waktu koagulasi berkurang dan akan mendapat tambahan plasma selama persalinan. Jumlah sel-sel darah putih meningkat secara progresif selama kala I persalinan sebesar 5000 sd 15000 WBC sampai dengan akhir pembukaan lengkap. Ini tidak mengindikasikan adanya infeksi. Setelah itu turun kembali keadaan semula. Gula darah akan turun selama persalinan secara mencolok pada persalinan yang mengalami penyulit atau persalinan lama. Ini disebabkan karena adanya kegiatan uterus dan otot kerangka tubuh. Penggunaan uji laboratorium untuk penapisan ibu yang menderita diabetes melitus akan memberikan hasil yang tidak tepat dan tidak dapat diandalkan.

8.      Perubahan renal
Poliuri sering terjadi selama persalinan, yang dikarenakan oleh kardiak out-put yang meningkat serta disebabkan oleh glomerulus serta aliran plasma ke renal. Poliuri tidak begitu kelihatan dalam posisi terlentang yang mengurangi aliran urine selama kehamilan. Kandung kencing harus sering dikontrol setiap 2 jam yang bertujuan tidak menghambat bagian terendah janin dan trauma pada kandung kemih serta menhindari retensi urine setelah melahirkan.
9.      Perubahan gastrointestinal
Kemampuan pergerakan gastrik serta penyerapan makanan padat berkurang, menyebabkan pencernaan hampir terhenti selama persalinan dan menyebabkan konstipasi. Makanan yang masuk ke lambung selama fase pendahuluan atau fase kemungkinan besar akan tetap berada dalam perut selama persalinan. Rasa mual muntah bukanlah hal yang jarang,hal ini menunjukan berakhirnya kala I pesalinan. Lambung yang peuh bisa menimbulkan ketidaknyamanan, oleh karena itu ibu dianjurkan tidak makan terlalu banyak atau minum berlebihan tetapi secukupnya untuk mempertahankan energi dan hidrasi.
10.  Perubahan suhu badan
Suhu badan akan sedikit meningkat selama persalinan, suhu mencapai tingkat tertinggi selama persalinan dan segera setelah kelahiran. Kenaikan ini dianggap normal asal tidak melebihi 0,5-1 derajat celcius. Suhu badan yang naik sedikit merupakan yang wajar namun jika keadaan ini berlangsung lama, kenaikan suhu mengindikasikan dehidrasi. Parameter lain yang harus dilakukan adalah selaput ketuban sudah pecah atau belum, karena ini bisa merupakan tanda infeksi.
11.  Perubahan pada vagina dan dasar panggul
a.       Pada kala I ketuban ikut meregang, bagian atas vagina yang sejak kehamilan mengalami perubahan sedemikian rupa akan bisa dilalui bayi.
b.      Setelah ketuban pecah segala perubahan terutama pada dasar panggul ditimbulkan oleh bagian depan anak. Oleh bagian depan yang maju tersebut dasar panggul diregang menjadi saluran dengan dinding yang tipis.
c.       Waktu kepala sampai di vulva, lubang vulva menghadap kedepan atas. Dari luar regangan oleh bagian depan tampak pada perineum yang menonjol menjadi tipis, sedangkan anus semakain terbuka.
d.      Regangan yang kuat ini dimungkinkan karena bertambahnya pembuluh darah pada bagian vagina dan dasar panggul. Tetapi saat jaringan tersebut robek, akan menimbulkan perdarahan yang banyak.
2.2    Perubahan Fisiologis Kala II
1.       Kontraksi  uterus
Dimana kontraksi ini bersifat nyeri dan disebabkan oleh anoxia dari sel-sel otak tekanan pada bagian dalam servix dan segmen bawah rahim (SBR), tekanan dari servix, tegangan dan tarikan pada peritoneim, itu semua terjadi pada saat kontraksi,. Adapun kontraksi yang bersifat berkala dan yang harus diperhatikan adalah lamanya kontralksi berlangsung 60-90 detik, kekuatan kontraksi, kekuatan kontraksi secara klinis ditentukan dengan mencoba apakah jari kita apat menekan dinding rahim kedalam, interva l antara kedua kontraksi pada kala pengeluaran sekali dalam 2 menit
2.      Perubahan uterus
Keadaan segmen atas rahim (SAR) dan segmen bawah ramin (SBR). Dalam ersalinan perbedaan SAR dan SBR akan tampak lebih jelas, diman SAR dibentuk oleh korpus uteri dan bersifat memegang peranan aktif (berkontraksi) dan dindingnya bertambah tebal dengan majunya persalinan, dengan kata lain SAR mengadakan suatu kontraksi menjadi tebal dan mendorong anak keluar. Sedangkan SBR dibentuk oleh isthimust uteri yang sifatnya memegang peranan pasif dan makin tipis dengan majunya perslinan (disebabkan karena regangan) dengan kata lain SBR dan servix mengadakan relaksasi dan dilatasi.
3.      Perubahan pada serviks
Perubahan pada serviks pada kala II ditandai dengan pembukaan lengkap , pada pemeriksaan dalam tidak teraba lagi bibir portio, segmen bawah rahim dan serviks.
4.      Perubahan vagina dan dasar panggul
Setelah pembukaan lengkap dan ketuban telah pecah terjadi perubahan, terutama pada dasar panggul yang diregangkan oleh bagian depan janin sehingga menjadi saluran yang dinding-dindingnya tipis karena suatu regangan dan kepala sampai di vulva, lubang vulva menghadap kedepan atas dan anus, menjadi terbuka, perineum menonjoldan tidk lama kemudian kepala janin tampak pada vulva.
5.      Perubahan fisik lain yang mengalami perubahan.
a.       Perubahan sistem reproduksi
Kontraksi uterus pada persalinan bersifat unik, mengingat kontraksi ini merupakan kontraksi otot fisiologis yang menimbulkan nyeri pada tubuh. Selama kehamilan terjadi keseimbngan antra kadar progesteron dan estrogen didalam darah, tetapi pada akhir kehamilan kadar esterogen dan progesteron menurun kira-kira 1- 2 minggu sebelum partus dimulai. Sehingga menimbulkan kontraksi uterus. Kontraksi uterus mula-mula jarang dan tidak teraktur dengan intensitasnya ringan, kemudian menjadi lebih sering, lebih lama, dan intensitasnya semakin kuat seiring kemajuan persalinan.
b.      Perubahan tekanan darah
Tekanan darah akan meningkat selama kontraksi disertai peningkatan sistolik rata-rata 10-20 mmHg. Pada waktu-waktu diantara kontraksi tekanan darah kembali ke tingkat sebelum persalinan. Dengan mengubah posisi tubuh dari terlentang ke posisi miring, perubahan tekanan darah selama kontraksi dapat dihindari. Nyeri, rasa takut dan kekhawatiran dapat meningkatkan tekanan darah.
c.       perubahan metabolisme
Selama persalinan, metaolisme meningkat dengan kecepatan tetap, peningkatan ini terutama disebabkan oleh aktifitas otot. Peningkatan aktifitas metabolik terlihat dari peningkatan suhu tubuh , denyut nadi, pernapasan, denyut jantung dan cairan yang hilang.
d.      Perubahan suhu
Perubahan suhu sedikit meningkat selama persalinan dan tertonggi selama dan setelah melahirkan. Perubahan suhu dianggap normal bila peningkatan suhu yang tidak lebih 0,5-1 derajat celcius yang mencerminkan peningkatan metabolisme selama persalinan.
e.       Perubahan denyut nadi
Perubahan yang mencolok selama kontraksi disertai peningkatan selama fase peningkatan, penurun selama titik puncak sampai frekuensi yang lebih rendah dari pada frekuensi diantara kontraksi dan peningkatan selama fase penurunan hingga mencapai frekuensi lazim diantara kontraksi. Penurunan yang mencolok selam kontraksi uterus tidak terjadi jika wanita berada pada posisi miring bukan terlentang. Frekuensi denyut nadi diantara kontraksi sedikit lebih meningkat dibanding selama periode menjelang persalinan. Hal ini mencerminkan peningkatan metabolisme yang terjadi persalian.
f.        Perubahan pernapasan
Peningkatan frekuensi pernapasan normal selama persalinan dan mencerminkan peningkatan metabolisme yang terjadi hyperventilasi yang menunjang adalah temuan abnormal dan dapat menyebabkan alkalosis (rasa kesemutan pada ekstremitas dan perasaan pusing)

g.      Perubahan pada ginjal
Poliura sering terjadi selama persalinan. Kondisi ini dapat diakibatkan peningkatan lebih lanjut. Curah jantung selama persalinan dan kemungkinan peningkatan laju filtrasi glumerulus dan aliran plasma ginjal. Poliura menjadi kurang jelas pada posisi terlentangkarena posisiini membuat aliran urine bekurang selama persalinan.
h.      Perubahan pada saluran cerna.
Absorbsi lambung terhadap makanan padat jauh lebih berkurang apabila kondisi ini diperburuk oleh penurunan lebih lanjut sekresi asam lambung selama persalinan. Maka saluran cerna bekerja dengan lambat sehingga waktu pengosongan lambung menjadi lebih lama. Cairan tidakdipengaruhi dan waktu yang dibutuhkan untuk pencernaan di lambung tetap seperti biasa. Lambung yang penuh dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan penderitaan umum selama transisi. Oleh karena itu wanita harus dianjurkan untuk tidak makan dalam porsi besar atau minum berlebihan, tetapi makan dan minum ketika keinginan timbul guna mempertahankan energi dan hidrasi. Mual dan muntah umum terjadi selama fase transisi yang menandai akhir fase pertama persalinan.
i.        Perubahan hematologi
Hemoglobin meningkat rata-rata 1,2 gr/100 ml selama persalinan dan kembali ke kadar sebelum persalinan pada hari pertama pasca partum jika tidak ada kehilangan darah yang abnormal. Waktu koagulasi darah berkurang dan terdapat peningkatan fibrinogen plasma lebih lanjut selama persalinan.
2.3  Perubahan Fisiologis Kala III
Dimulai segera setelah sampai bayi sampai lahirnya plasenta yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit. Setelah bayi lahir uterus teraba keras dengan fundus uteri agak diatas pusat beberapa menit kemudian uterus berkontraksi lagi untuk melepaskan plasenta dari dindingnya. Biasanya plasenta lepas dalam 6 menit – 15 menit setelah bayi lahir dan keluar spontan atau dengan tekanan pada fundus uteri. Pengeluaran plasenta, disertai dengan pengeluaran darah. Komplikasi yang dapat timbul pada kala II dalah perdarahan akibat atonia uteri, retensio plasenta,perlukaan jalan lahir, tanda gejala tali pusat. Tempat implantasi plasenta mengalami pengerutan akibat pengosongan kavum uteri dan kontraksi lanjutan sehingga plasenta dilepaskan dari perlekatannya dan pengumpulan darah pada ruang utero-plasenter akan mendorong plasenta keluar. Otot uterus (miometrium) berkontraksi mengikuti penyusutan volume rongga uterus setelah lahirnya bayi. Penyusutan ukuran ini menyebabkan berkurangnya ukuran tempat perlekatan plasenta karena tempat perlekatan menjadi semakin kecil, sedangkan ukuran plasenta tidak berubah maka plasenta akan terlipat, menebal dan kemudian lepas, plasenta akan turun kebagian bawah uterus atau kedalam vagina (Depkes RI 2007).
Pada kala III, otot uterus (miometrium) berkontraksi mengikuti penyusutan volume rongga uterus setelah lahirnya bayi. Penyusutan ukuran ini menyebabkan berkurangnya ukuran tempat perlekatan plasenta. Karena tempat perlekatan menjadi semakin kecil, sedangkan ukuran plasenta tidak berubah maka plasenta akan terlipat, menebal dan kemudian lepas dari dinding uterus. Setelah lepas, plasenta akan turun kebagian bawah uterus atau kedalam vagina. Setelah janin lahir, uterus mengadakan kontraksi yang mengakibatkan penciutan permukaan kavum uteri, tempat implantasi plasenta. Akibatnya, plasenta akan lepas dari tempat implantasinya.
2.4  Perubahan Fisiologis Kala IV
Kala IV adalahkala pengawasan dari 1-2 jam setelah bayi dan plasenta lahir. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah kontraksi uterus sampai uterus kembali dalam bentuk normal. Hal ini dapat dilakukan dengan rangsangan taktil (masase) untuk merangsang uterus berkontraksi baik dan kuat. Perlu juga dipastikan bahwa plasenta telah lahir lengkap dan tidak ada yang tersisa dalam uterus serta benar-benar dijamin tidak terjadi perdarahan lanjut.
Perdarahan pasca persalinan adalah suatu keadaan mendadak dan tidak dapat diramalkan yang merupakan penyebab kematian ibu di seluruh dunia. Sebab yang paling umum dari perdarahan pasca persalinan dini yang berat ( terjadi dalam 24 jam setelah melahirkan) adalah atonia uteri (kegagalan rahim untuk berkontraksi sebagaimana mestinya setelah melahirkan). Plasenta yang tertinggal, vagina atau mulut rahim yangterkoyak dan uterus yang turun atau inversi juga merupakan sebab dari perdarahan pasca persalinan.
           
                       








BAB III
PENUTUPAN
3.1  Kesimpulan
Sejumlah perubahan perubahan fisiologis yang normal akan terjadi selama persalinan, hal ini bertujuan untuk mengetahui perubahan-perubahan yang dapat dilihat secara klinis bertujuan untuk dapat secara tepat dan cepat mengintepretasikan tanda-tanda, gejala tertentu dan penemuan perubahan fisik dan laboratorium apakah normal atau tidak selama persalinan kala I. Perubahan fisiologis terjadi pada tekanan darah, metabolisme, suhu badan, denyut jantung, pernafasan, hematologi, uterus, serviks dan kardiovaskular
3.2 Saran
Sebagai tenaga medis terutama seorang bidan harus mampu menjelaskan segala perubahan yang terjadi pada masa persalinan kepada ibu. Sehingga ibu mengerti bahwa keaadaan tersebut wajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar