Kamis, 20 April 2017



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Keputusan adalah hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas. Hal ini berkaitan dengan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang harus dilakukan dan mengenai unsur-unsur perencanaan. Dapat juga dikatakan bahwa keputusan itu sesungguhnya merupakan hasil proses pemikiran yang berupa pemilihan suatu diantara beberapa alternatif yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.
Keputusan itu sendiri merupakan unsur kegiatan yang sangat penting. Jiwa kepemimpinan seseorang itu dapat diketahui dari kemampuan mengatasi masalah dan mengambil keputusan yang tepat. Keputusan yang tepat adalah keputusan yang berbobot dan dapat diterima bawahan. Ini biasanya merupakan keseimbangan antara disiplin yang harus ditegakkan dan sikap manusiawi terhadap bawahan. Keputusan yang demikian ini juga dinamakan keputusan yang mendasarkan diri pada relasi sesama.
1.2 Tujuan umum
Untuk memenuhi tugas makalah “Pengambilan Keputusan” dan mengerti tentang cara bagaimana cara pengambilan keputusan.
1.3 Tujuan Khusus
Untuk mengetahui tentang cara pengambilan keputusan yang baik agar tidak salah dalam pengambilan keputusan.














BAB II
PEMBAHASAN

2.1    Teori-Teori Pengambilan Keputusan
Teori-teori pengambilan keputusan bersangkut paut dengan masalah bagaimana pilihan-pilihan semacam itu dibuat, kebijaksanaan, adalah sautu tindakan yang mengarah pada tujuan tertentu yang dilakukan oleh seorang aktor atau sejumlah aktor berkenan dengan suatu masalah atau persoalan tertentu.
Secara tipikal pembuatan kebijaksanaan merupakan tindakan yang berpola, yang dilakukan sepanjang waktu dan melibatkan banyak keputusan yang diantaranya ada yang merupakan keputusan rutin, ada yang tidak rutin. Dalam praktek pembuat kebijaksanaan sehari-hari amat jarang kita jumpai suatu kebijaksanaan yang hanya terdiri dari keputusan tunggal. Dalam tulisan ini akan dibahas 3 (tiga) teori pengambilan keputusan yang dianggap paling sering dibicarakan dalam berbagai keputusan kbijaksanaan negara. Teori-teori yang dimaksud adalah : teori rasional komprehensif, teori inkremental dan teori pengamatan terpadu.
1.    Teori Rasional Komorehensif
Teori pengambilan keputusan yang paling dikenal dan mungkin pula yang banyak ditermia oleh kalangan luas adalah teori rasional komprehensif. Unsur-unsur utama dari teori ini dapat dikemukakan sebagai berikut:
a.    Pembuatan keputusan dihadapkan pada suatu masalah tertentu yang dapat dibedakan dari masalah-masalah lain atau setidaknya dinilai sebgai masalah-masalah yang dapat diperbandingkan satu sama lain.
b.    Tujuan-tujuan, nilai-nilai, atau sasaran yang memedomani pembuat keputusan amat jelas dan dapat diterapkan rangkingnya sesuai dengan urutkan kepentingannya.
c.    Berbagai alternatif untuk memecahkan masalah tersebut diteliti secara saksama.
d.   Akibat-akibat (biaya dan manfaat) yang ditimbulkan oleh setiap alternatif yang dipilih diteliti.
e.    Setiap alternatif dan masing-masing akibat yang menyerupainya, dapat diperbandingkan dengan alternatif –alternatif lainnya
f.     Pembuatan keputusan akan memilih alternatif dan akibat-akibatnya yang dapat memaksimasi tercapainya tujuan, nilai, atau sasaran yang telah digariskan.
                        Teori rasional komprehensif banyak mendapatkan kritik, dan kritik yang paling tajam dari seorang ahli ekonomi dan matematika Charles Lindbom (1965,1964, 1959), Lindblom secara tegas menyatakan bahwa para pembuat keputusan ini sebenarnya tidaklah beradapan dengan masalah-masalah yang kongkrit dan terumuskan dengan jelas. Lebih lanjut, pembuat keputusan kemungkinan juga sulit untuk memilah-milah secara tegas antara nilai-niainya sendiri dengan nilai-nilai yang diyakini masyarakat. Asumsi penganjur model rasional bahwa antara fakta-fakta dan nilai-nilai dapat dengan mudah dibedakan, bahkan dipisakan, tidak mudah terbukti dengan pernyataan sehari-hari. Akhirnya, masih ada maslah yang disebut sunkcost. Keputusan-keputusan, kesepakatan-kesepakatan dan infestasi terdahulu  dalam kebijaksanaan dan program-program yang ada sekarang kemungkinan akan mencegah pembuat keputusan yang berbeda sama sekali dari yang sudah ada.
  Untuk konteks negara-negara sedang berkembang, menurut R’s. Milnei 1972, model rasional komprehensif ini jelas tidak akan mudah diterapkan. Sebabnya ialah : informasi atau data statistik tidak memadai, tidak memadainya perangkat teori yang siap pakai untuk kondisi-kondisi negara sedang berkembang, ekologi budaya dimana sistem pembuat keputusan itu peroprasi juga tidak menudukung birokrasi dinegara sedang berkembang umunya dikenal amat lemah dan tidak sanggup memasok unsur-unsur rasional dalam pengambilan keputusan.
2. Teori Inkremental
Teori Inkremental dalam pengambilan keputusan mencerminkan suatu teori pengambilan keputusan yang menghindari banyak masalah yang harus dipertimbangkan (Seperti dalam teori rasional komprehensif) dan pada saat yang sama, merupakan teori yang lebih bersifat menggambarkan cara yang ditempuh oleh pejabat-pejabat pemerintah dalam mengambil keputusan sehari-hari. Pokok-pokok teori inkremental ini dapat diuraikan sebagai berikut :
a.    Pemilihan tujuan atau sasaran dan anilisis tindakan empiris yang diperlukan untuk mencapainya dipandang sebagai sesuatu hal yang saling terkait daripada sebagai sesuatu hal yang saling terpisah.
b.    Pembuat keputusan dianggap hanya mempertimbangkan beberapa alternatif yang langsung berhubungan dengan pokok masalah dan alternatif-alternatif ini hanya dipandang berbeda secara inktermental atau marginal bila dibandingkan dengan kebijaksanaan yang ada sekarang.
c.    Bagi tiap alternatif hanya sejumlah kecil akibat-akibat yang mendasar saja yang akan dievaluasi.
d.   Masalah yang dihadapi oleh pembuat keputusan akan didefinisikan secara teratur. Pandangan inktermentalisme memberikan kemungkinan untuk mempertimbangkan dan menyesuaikan tujuan dan sarana serta sarana dan tujuan sehingga menjadikan dampak dari masalah itu lebih dapat ditanggulangi.
e.    Bahwa tidaka ada keputusan atau cara pemecahan yang tepat bagi tiap masalah. Batu uji bagi keputusan yang baik terletak pada keyakinan bahwa berbagai analisis pada akhirnya akan sepakat pada keputusan tertentu meskipun tanpa menyepakati bahwa keputusan itu adalah yang paling tepat sebagai sarana untuk mencapai tujuan.
f.     Pembuatan keputusan yang inktremental pada hakikatnya bersifat perbaikan-perbaikan kecil dan hal ini lebih diarahkan untuk memperbaiki ketidak sempurnaan dari upaya konkert dalam mengatasi masalah sosial yang ada sekarang daripada sebagai upaya untuk menyodorkan tujuan-tujuan sosial yang sama sekali baru di masa yang akan datang.
Keputusan-keputusan dan kebijaksanaaan-kebijaksanaan pada hakikatnya merupakan produk dari saling memberi dan menerima dan saling percaya di antara berbagai pihak yang terlibat dalam proses keputusan tersebut. Dalam masyarakat yang strukturnya majemuk paham inktremental ini secara politis lebih aman karena akan lebih gampang untuk mencapai kesepakatan apabila masalah-masalah yang diperdebatkan oleh berbagai kelompok yang terlibat hanyalah bersifat upaya untuk memodifikasi terhadap program-program yang sudah ada  daripada jika hal tersebut menyangkut isu-isu kebijaksanaan mengenai perubahan-perubahan radikal yang memiliki sifat “ambil semua atau tidak sama sekali. Oleh karena para pembuat keputusan itu berada dalam keadaan yang serba tidak pasti,  khususnya yang menyangkut akibat-akibat dari tindakan-tindakan mereka dimasa datang, maka keputusan yang bersifat inktermental ini akan dapat mengurangi resiko dan biaya yang ditimbulkan oleh suasana ketidakpastian itu.
3. Teori Pengamatan Terpadu (Mixed Scanning Theory)
Penganjur teori ini adalah ahli sosiologi organisasi Amitai Etzioni. Etzioni setuju terhadap kritik-kritik para teoretisi inktremental yang diarahkan pada teori rasional komprehensif, akan tetapi ia juga menunjukan adanya beberapa kelemahan yang terdapat pada teori inktremental. Misalnya, keputusan-keputusan yang dibuat oleh pembuat keputusan penganut model inktremental akan lebih mewakili atau mencerminkan kepentingan-kepentingan daripada kelompok-kelompok yang kuat dan mapan serta kelompok-kelompok yang mampu mengorganisasikan kepentingannya dalam masyarakat, sementara itu kepentingan-kepentingan dari kelompok-kelompok yang lemah dan yang serta politis tidak mampu mengorganisasikan kepentingannya praktis akan terabaikan.
Lebih lanjut, dengan memusatkan perhatiannya pada kepentingan atau tujuan jangka pendek dan hanya berusaha untuk memperhatikan variasi yang terbatas dalam kebijaksanaan-kebijaksanaan yang ada sekarang, maka model inktremental cenderung mengabaikan peluang bagi perlunya pembaruan sosial (social inovation) yang mendasar. Oleh karena itu menrut Yehezkel Dror (1968) gaya inktremental dalam pembuatan keputusan cenderung mengembangkan kelambanan dan terpeliharanya status quo, sehingga merintangi upaya menyempurnakan proses pembuatan keputusan itu  sendiri. Bagi sarjana seperti dror yang pada dasarnya merupakan salah seorang penganjur teori  rasional yang terkemuka, model inktremental ini justru dianggapnya merupakan strategi yang tidak cocok untuk diterapkan di negara-negara ini perubahan yang kecil-kecilan (inktremental) tidaklah memadai guna tercapainya hasil berupa perbaikan besar-besaran.
Model pengamatan terpadu juga memperhitungkan tingkatan kemampuan para pembuat keputusan yang berbeda-beda. Secara umum dapat dikatakan, bahwa semakin besar kemampuan para pembuat keputusan untuk memobilisasikan kekuasaannya guna mengimplementasikan keputusan-keputusan mereka, semakin besar keperluannya untuk melakukan scanningdan semakin  menyeluruh scanning itu, semakin efektif pengambilan keputusan tersebut. Dengan demikian, model pengamatan terpadu ini pada hakikatnya merupakan pendekatan kompromi yang menggabungkan pemanfaatan model rasional komprehensif dan model inktremental dalam proses pengambilan keputusan.
2.2 Dasar Pengambilan Keputusan
Menurut George R.Terry dan Brinckloe disebutkan dasar-dasar pendekatan dari pengambilan keputusan yang dapat digunakan yaitu :
1.      Institusi
Pengambilan keputusan yang didasarkan atas institusi atau perasaan memiiki sifat subyektif sehingga mudah terkena pengaruh. Pengambilan keputusan berdasarkan institusi ini mengandung beberapa keuntungan dan kelemahan.
2.      Pengalaman
Pengambilan keputusan berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis, karena pengalaman seseorang dapat memperkirakan keadaan sesuatu, dapat diperhitungkan untuk ruginya terhadap keputusan yang akan dihasilkan. Orang yang memiliki banyak pengalaman tentu akan lebih menantang dalam pengambilan keputusan, tetapi peristiwa yang lampau tidak sama dengan peristiwa yang terjadi kini.
3.      Fakta
Pengambilan keputusan berdasarkan fakta dapat memberikan keputusan yang sehat, solid dan baik. Dengan fakta, maka tingkatan kepercayaan terhadap pengambilan keputusan dapat lebih tinggi, sehingga orang dapat menerima keputusan-keputusan yang dibuat itu dengan rela dan lapang dada.
4.      Wewenang
Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya atau orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah kedudukkannya.  Pengambilan keputusan berdasarkan wewenang ini juga memiliki kelebihan dan kekurangan.
5.      Logika atau Rasional
Pengambilan keputusan yang berdasarkan logika ialah suatu studi yang rasional terhadap semua umur pada setiap sisi dalam proses pengambilan keputusan. Pada pengambilan keputusan yang berdasarkan rasional, keputusan yang dihasilkan bersifat obyektif, logis, lebih transparan, konsisten untuk memaksimumkan hasil atau dalam batas kendala tertentu, sehingga dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sesuai dengan apa yang diinginkan. Pada pengambilan keputusan secara logika terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan  yaitu :
a. Kejelasan masalah
b. Orientasi tujuan : kesatuan pengertian tujuan yang ingin dicapai
c. Pengetahuan alternatif : seluruh alternatif diketahuiJenisnya dan konsekuensinya
d. Preferensi yang jelas: alternatif bisa diurutkan secara kriteria
e. Hasil maksimal: Pemilihan alternatif terbaik didasarkan atas hasil ekonomis yang maksimal
2.3 Faktor – Faktor yang Memengaruhi Pengambilan Keputusan
Menurut terry (1989) faktor – faktor yang harus diperhatikan dalam mengambil keputusan sebagai berikut :
1.      Hal – hal yang berwujud maupun tidak berwujud, yang emosional maupun rasional perlu diperhatikan dalam mengambil keputusan
2.      Setiap keputusan nantinya harus dapat dijadikan bahan untuk mencapai tujuan organisasi
3.      Setiap keputusan janganlah beriorentasi pada kepentingan pribadi, perhatikan kepentingan orang lain
4.      Jarang sekali ada pilihan yang memuaskan
5.      Pengambilan keputusan merupakan tindakan mental. Dari tindakan mental ini kemudian harus diubah menjadi tindakan fisik
6.      Pengambilan keputusan yang efektif membutuhkan waktu yang lebih lama
7.      Diperlukan pengambilan keputusan yang praktis untuk untuk mendapatkan hasil yang baik
8.      Setiap keputusan hendaknya dikembangkan, agar dapat diketahui apakah keputusan yang diambil itu benar; dan
9.      Setiap keputusan ini merupakan tindakan permulaan dari serangkaian kegiatan berikutnya.
Kemudian terdapat enam faktor lain yang juga ikut memengaruhi pengambilan keputusan
1.      Fisik
Didasarkan pada rasa yang dialami pada tubuh, seperti rasa tidak nyaman, atau kenikmatan. Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa tidak senang, sebaliknya memilih ltingkah laku yang memberikan kesenangan.
2.      Emosional
Didasarkan pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada suatu situasi secara subjektif.
3.      Rasional
Didasarkan pada pengetahuan orang – orang mendapatkan informasi, memahami situasi dan berbaga konsekuensinya.
4.      Praktikal
Didasarkan pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakan. Seseorang akan menilai potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuannya dalam bertindak.
5.      Interpersonal
Didasarkan pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antara satu orang kepada orang lainnya dapat memengaruhi tindakan individual
6.      Struktural
Didasarkan pada lingkup sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin memberikan hasil yang mendukung atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu.
2.4 Proses Pengambilan Keputusan Individu(Individual Decision Making)
Proses pengambilan keputusan individu yang dihasilkan oleh seseorang dapat dibedakan menjadi dua macam, pertama rational approach pendekatan ini menuntut seseorang untuk membuat keputusan dan kedua adalah bounded rationality perspective yang menjelaskan bagaimana keputusan dibuat dibawah keterbatasan waktu dan sumber daya.
a.       Rational Approach
Merupakan sebuah pendekatan rasional yang menekankan analisis permasalahan secara sistematis yang diikuti dengan pemilihan alternatif serta implementasi keputusan tersebu proses pembuatan keputusan secara individu. Pendekatan ini merupakan model ideal bagaimana keputusan di buat dan pada praktiknya pendekatan ini tidak sepenuhnya dapat di capai dalam dunia nyata. Menurut model ini keputusan di buat melalui 8 (delapan) tahap,antara lain:
1.    Monitor the decision environment
Pada tahap ini, seseorang memonitor informasi yang mengindikasikan terjadi penyimpangan baik itu informasi yang  bersifat internal maupun ekternal
2.    Define the decision  problem
Pada tahap ini dilakukan identifikasi detail dari permasalahan yang terjadi
3.    Specity decision objectives
Pada tahap ini seseorang menentukan apa yang ingin dicapai oleh keputusan yang akan dibuat.
4.    Diagnose the problem
Ditahap ini seseorang menelusuri lebih lanjut serta menganalisis apa yang menjadi sumber permasalahan.
5.    Develop alternative solutions
Seseorang mengemukakan tidak hanya satu alternatif keputusan dalam menangani masalah.
6.    Evaluate alternatives
Pada tahap ini teknik-teknik stastistik atau pengalaman pribadi dapat digunakan untuk mencari alternatif keputusan dengan tingkat keberhasilan tertinggi
7.    Choose the best alternative
Pada tahap ini kemampuan seseorang diuji untuk memutuskan alternatif keputusan mana yang harus dipilih, sehingga ditahap ini akan dihasilkan alternatif keputusan tunggal sebagai solusi dari permasalahan yang terjadi.
8.    Implement the chosen alternative
Pada tahap ini seseorang mulai menggunakan kemampuan persuasif dan administratif manajarial yang dimilikinya. Seseorang juga dituntut untuk memberikan arahan guna menjamin keputusan yang diambil dilaksanakan dengan baik.
b. Bounded Rationality Perspective
                   Pendekatan proses pengambilan keputusan secara rasional sangat sulit dilakukan pada kenyataannya seseorang dalam dunia nyata dituntut untuk melakukan pengambilan keputusan yang cepat. Sehingga dalam pengambilan keputusan seseorang akan terbatasi oleh waktu, factor internal dan eksternal serta sifat alamiah suatu permasalahan yang tidak memungkinkan untuk dilakukannya suatu analisis menyeluruh terhadap permasalahan tersebut. Hal ini yang menjadikan pengambilan keputusan secara rasional menjadi terbatasi ( Bounded rationality perspective ). Pengambilan keputusan menggunakan pendekatan ini umumnya lebih menekankan pada aspek intuisi, pengalaman dan penilaian (judjement) dibandingkan dengan langkah-langkah logis. Intuisi tidak selalu bersifat irasional, karena intuisi didasarkan atas pengalaman bertahun-tahun dari seseorang terhadap pekerjaannya yang tlah tersimpan didalam bawah sadarnya. Intuisi akan menghasilkan keberanian serta firasat mengenai alternative keputusan mana yang diperkirakan dapat memecahkan permasalahan sehingga intuisi akan mempersingkat waktu dalam pengambilan keputusan.
                  Keterlibatan bidan dalam proses pengambilan keputusan sangat penting karena dipengaruhi oleh dua hal: 1) pelayanan “one the one”: bidan dank lien bersifat sangat pribadi dan bidan bias memenuhi kebutuhan, dan 2) meningkatkan sensitivitas terhadap klien bidan berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan.
2.5  Empat Tingkatan Kerja Pertimbangan Moral Dalam Pengambilan Keputusan Ketika Menghadapi Dilema Etik
1.    TINGKATAN 1: Keputusan dan tindakan: Bidan mereflesikan pada pengalaman atau pengalaman rekan kerja
2.    TINGKATAN 2: Peraturan: Berdasarkan kaidah kejujuran (berkata benar), privasi, kerahasian dan kesetian. Bidan familiar, tidak meninggalkan kode etik dan panduan praktek profesi.
3.    TINGKATAN 3: Ada 4 prinsip etika yang digunakan dalam perawatan praktek  kebidanan (menurut Beaucamo & Childrens 1989 dan Richard, 1997).
a.    Anatonomy, memperhatikan penguasaan diri, hak kebebesan dan pilihan individu.
b.    Beneticence, memperhatikan pengingkatan kesajehteraan klien, selain itu berbuat terbaik untuk orang lain.
c.    Non Maleticence, tidak melakukan tindakan yang menimbulkan penderitaan apapun kerugiaan pada orang lain.
d.   Justice,  memperhatikan keadilan, pemerataan beban dan keutungan.
4. TINGKATAN 4: teori pengambilan keputusan sebagaimana berikut ini:
a.    Teori Utilitarisme: Ketika keputusan diambil. Simalkan kesenangan, menimbulkan ketidaksenangan.
b.   Teori Deontology: Menurut Immanuel Kant : sesuatu dikatakan baik bila bertindak baik. Contohnya bila berjanji dan ditepati, bila pinjam harus dikembalikan .
c.    Teori Hedonisme: Menurut Aristippos. Sesuai kodratnya, setiap manusia mencari kesenangan dan menghindari ketidaksenangan.
d.   Teori Eudemonisme: Menurut filsuf Yunani Aristoteles, bahwa dalam setiap kegiatannya manusia mengejar suatu tujuan, ingin mencapai suatu yang baik bagi kita.
2.6 Bentuk Pengambilan Keputusan
1.      Strategi: Dipengaruhi oleh kebijakan organisasi atau pimpinan, rencana dan masa depan, rencana bisnis dan lain-lain.
2.      Cara kerja: Yang dipengaruhi pelayanan kebidanan di dunia, klinik, dan komunitas.
3.      Individu dan profesi: Dilakukan oleh bidan yang dipengaruhi oleh standar praktik kebidanan.
2.7 Pengambilan Keputusan
Ciri-ciri keputusan yang etis adalah sebagai berikut:
1.    Mempunyai pertimbangan yang benar atau salah
2.    Sering menyangkut pilihan yang sukar
3.    Tidak mungkin dielakkan
4.    Memperjelas hasil prioritas yang ingin dicapai
5.    Mempertimbangkan pilihan yang ada
6.    Memilih solusi dan menerapkan atau melaksanakannya
Tips pengambilan keputusan yang etis dalam keadaan kritis adalah sebagai berikut :
1.    Indentifikasi dan tugaskan apa masalahnya, baik oleh sendiri atau dengan orang lain
2.    Tetapkan hasil apa yang diingikan
3.    Uji kesesuaian yang lebih baik
4.    Pilih solusi yang lebih baik
5.    Laksanakan tindakan tanpa ada keterlambatan
2.8  Pengambilan Keputusan Klinis
Pengambilan keputusan klinis adalah keputusan yang diambil berdasarkan kebutuhan dan masalah yang dihadapi klien, sehingga semua tindakan yang dilakukan bidan dapat mengatasi permasalah yang didahapi klien yang bersifat emergensi, antisipasi, atau rutin. Pengambilan keputusan klinis tergantung:
1.    Pengetahuan
2.    Latihan praktik
3.    Pengalaman
Pengambilan keputusan klinis yang benar dan tepat klinis yang benar dan tepat dapat dilakukan dengan cara sebagaimana berikut ini:
1.    Menghindari pekerjaan atau tindakan rutin yang tidak sesuai dengan kebutuhan klien
2.    Meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan yang diberikan
3.    Membiasakan bidan berfikir dan bertindak sesuai standar
4.    Memberikan kepuasan pelanggan
Langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam upaya pengambilan keputusan klinis adalah sebagaimana berikut ini:
1.    Penilaian (Pengumpulan informasi)
2.    DX (Penafsiran)
3.    Perencana
4.    Intervensi
5.    Evaluasi
Ada dua hal yang harus diperhatikan dalam menghadapi situasi panik yaitu:
a.    Mempertimbangan satu solusi berdasarkan pengalaman di masa lampau
b.    Meninjau simpanan pengetahuan yang relevan dengan keadaan tersebut
Manfaat yang perlu diketahui mengapa bidan perlu mengerti situasi:
1.    Untuk menerapkan norma-norma terhadap situasi
2.    Untuk melakukan perbuatan yang tepat dan berguna
3.    Untuk mengetahui masalah-masalah yang perlu diperhatikan
Tidak semua orang bisa memahami situasi, karena dalam memahami situasi setiap orang mempunyai kendala. Berikut ini kendala yang dapat menyebabkan kesulitan dalam mengerti situasi:
1.    Kerumitan situasi dan keterbatasan pengetahuan kita
2.    Pengertian kita terhadap situasi sering dipengaruhi oleh kepentingan, prasangka dan faktor-faktor subjektif lain.
Pemahaman seseorang tentang situasi dapat diperhatikan dengan beberapa cara berikut ini:
1.         Melakukan penyelidikan yang memadai
2.         Menggunakan sarana ilmiah dan keterangan para ahli
3.         Memperluas pandangan tentang situasi
4.         Kepekaan terhadap pekerjaan
5.         Kepekaan terhadap kebutuhan orang lain

BAB III
PENUTUP
3.1    Kesimpulan
Pengambilan keputusan merupakan hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas. Seorang bidan harus mampu bisa mengambil keputusan dengan baik dan tidak ceroboh dengan waktu yang tepat. Dengan mengambil keputusan yang tepat akan mudah untuk melakukan tindakan atau menyelesaikan masalah, maka dari itu mempelajari pengambilan keputusan sangatlah penting untuk tenaga medis.
3.2    Saran
Diharapkan setelah mepelajari pengambilan keputusan ini mampu menerapkan cara-cara bagaimana pengambilan keputusan yang baik dan tepat. Jika tidak bisa segera mengambil keputusan yang tepat atau ceroboh bisa membahayakan tindakan yang akan dilakukan.





















Daftar Pustaka
Marmi. 2014. Etika Profesi Bidan. Celeban Timur; Pustaka Pelajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar