BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang
Keputusan adalah hasil pemecahan masalah yang
dihadapinya dengan tegas. Hal ini berkaitan dengan jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan tentang apa yang harus dilakukan dan mengenai unsur-unsur
perencanaan. Dapat juga dikatakan bahwa keputusan itu sesungguhnya merupakan
hasil proses pemikiran yang berupa pemilihan suatu diantara beberapa alternatif
yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya.
Keputusan itu sendiri merupakan unsur kegiatan yang
sangat penting. Jiwa kepemimpinan seseorang itu dapat diketahui dari kemampuan
mengatasi masalah dan mengambil keputusan yang tepat. Keputusan yang tepat
adalah keputusan yang berbobot dan dapat diterima bawahan. Ini biasanya
merupakan keseimbangan antara disiplin yang harus ditegakkan dan sikap
manusiawi terhadap bawahan. Keputusan yang demikian ini juga dinamakan
keputusan yang mendasarkan diri pada relasi sesama.
1.2
Tujuan umum
Untuk
memenuhi tugas makalah “Pengambilan Keputusan” dan mengerti tentang cara bagaimana
cara pengambilan keputusan.
1.3
Tujuan Khusus
Untuk
mengetahui tentang cara pengambilan keputusan yang baik agar tidak salah dalam
pengambilan keputusan.
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1
Teori-Teori
Pengambilan Keputusan
Teori-teori
pengambilan keputusan bersangkut paut dengan masalah bagaimana pilihan-pilihan
semacam itu dibuat, kebijaksanaan, adalah sautu tindakan yang mengarah pada
tujuan tertentu yang dilakukan oleh seorang aktor atau sejumlah aktor berkenan
dengan suatu masalah atau persoalan tertentu.
Secara tipikal
pembuatan kebijaksanaan merupakan tindakan yang berpola, yang dilakukan
sepanjang waktu dan melibatkan banyak keputusan yang diantaranya ada yang
merupakan keputusan rutin, ada yang tidak rutin. Dalam praktek pembuat
kebijaksanaan sehari-hari amat jarang kita jumpai suatu kebijaksanaan yang
hanya terdiri dari keputusan tunggal. Dalam tulisan ini akan dibahas 3 (tiga)
teori pengambilan keputusan yang dianggap paling sering dibicarakan dalam
berbagai keputusan kbijaksanaan negara. Teori-teori yang dimaksud adalah :
teori rasional komprehensif, teori inkremental dan teori pengamatan terpadu.
1. Teori
Rasional Komorehensif
Teori pengambilan keputusan yang
paling dikenal dan mungkin pula yang banyak ditermia oleh kalangan luas adalah
teori rasional komprehensif. Unsur-unsur utama dari teori ini dapat dikemukakan
sebagai berikut:
a. Pembuatan
keputusan dihadapkan pada suatu masalah tertentu yang dapat dibedakan dari
masalah-masalah lain atau setidaknya dinilai sebgai masalah-masalah yang dapat diperbandingkan
satu sama lain.
b. Tujuan-tujuan,
nilai-nilai, atau sasaran yang memedomani pembuat keputusan amat jelas dan
dapat diterapkan rangkingnya sesuai dengan urutkan kepentingannya.
c. Berbagai
alternatif untuk memecahkan masalah tersebut diteliti secara saksama.
d. Akibat-akibat
(biaya dan manfaat) yang ditimbulkan oleh setiap alternatif yang dipilih
diteliti.
e. Setiap
alternatif dan masing-masing akibat yang menyerupainya, dapat diperbandingkan
dengan alternatif –alternatif lainnya
f. Pembuatan
keputusan akan memilih alternatif dan akibat-akibatnya yang dapat memaksimasi
tercapainya tujuan, nilai, atau sasaran yang telah digariskan.
Teori
rasional komprehensif banyak mendapatkan kritik, dan kritik yang paling tajam
dari seorang ahli ekonomi dan matematika Charles Lindbom (1965,1964, 1959),
Lindblom secara tegas menyatakan bahwa para pembuat keputusan ini sebenarnya
tidaklah beradapan dengan masalah-masalah yang kongkrit dan terumuskan dengan
jelas. Lebih lanjut, pembuat keputusan kemungkinan juga sulit untuk memilah-milah
secara tegas antara nilai-niainya sendiri dengan nilai-nilai yang diyakini
masyarakat. Asumsi penganjur model rasional bahwa antara fakta-fakta dan
nilai-nilai dapat dengan mudah dibedakan, bahkan dipisakan, tidak mudah
terbukti dengan pernyataan sehari-hari. Akhirnya, masih ada maslah yang disebut
sunkcost. Keputusan-keputusan, kesepakatan-kesepakatan dan infestasi
terdahulu dalam kebijaksanaan dan
program-program yang ada sekarang kemungkinan akan mencegah pembuat keputusan
yang berbeda sama sekali dari yang sudah ada.
Untuk
konteks negara-negara sedang berkembang, menurut R’s. Milnei 1972, model
rasional komprehensif ini jelas tidak akan mudah diterapkan. Sebabnya ialah :
informasi atau data statistik tidak memadai, tidak memadainya perangkat teori
yang siap pakai untuk kondisi-kondisi negara sedang berkembang, ekologi budaya
dimana sistem pembuat keputusan itu peroprasi juga tidak menudukung birokrasi
dinegara sedang berkembang umunya dikenal amat lemah dan tidak sanggup memasok
unsur-unsur rasional dalam pengambilan keputusan.
2.
Teori Inkremental
Teori
Inkremental dalam pengambilan keputusan mencerminkan suatu teori pengambilan
keputusan yang menghindari banyak masalah yang harus dipertimbangkan (Seperti
dalam teori rasional komprehensif) dan pada saat yang sama, merupakan teori
yang lebih bersifat menggambarkan cara yang ditempuh oleh pejabat-pejabat
pemerintah dalam mengambil keputusan sehari-hari. Pokok-pokok teori inkremental
ini dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Pemilihan
tujuan atau sasaran dan anilisis tindakan empiris yang diperlukan untuk
mencapainya dipandang sebagai sesuatu hal yang saling terkait daripada sebagai
sesuatu hal yang saling terpisah.
b. Pembuat
keputusan dianggap hanya mempertimbangkan beberapa alternatif yang langsung
berhubungan dengan pokok masalah dan alternatif-alternatif ini hanya dipandang
berbeda secara inktermental atau marginal bila dibandingkan dengan
kebijaksanaan yang ada sekarang.
c. Bagi
tiap alternatif hanya sejumlah kecil akibat-akibat yang mendasar saja yang akan
dievaluasi.
d. Masalah
yang dihadapi oleh pembuat keputusan akan didefinisikan secara teratur.
Pandangan inktermentalisme memberikan kemungkinan untuk mempertimbangkan dan
menyesuaikan tujuan dan sarana serta sarana dan tujuan sehingga menjadikan dampak
dari masalah itu lebih dapat ditanggulangi.
e. Bahwa
tidaka ada keputusan atau cara pemecahan yang tepat bagi tiap masalah. Batu uji
bagi keputusan yang baik terletak pada keyakinan bahwa berbagai analisis pada
akhirnya akan sepakat pada keputusan tertentu meskipun tanpa menyepakati bahwa
keputusan itu adalah yang paling tepat sebagai sarana untuk mencapai tujuan.
f. Pembuatan
keputusan yang inktremental pada hakikatnya bersifat perbaikan-perbaikan kecil
dan hal ini lebih diarahkan untuk memperbaiki ketidak sempurnaan dari upaya
konkert dalam mengatasi masalah sosial yang ada sekarang daripada sebagai upaya
untuk menyodorkan tujuan-tujuan sosial yang sama sekali baru di masa yang akan
datang.
Keputusan-keputusan
dan kebijaksanaaan-kebijaksanaan pada hakikatnya merupakan produk dari saling
memberi dan menerima dan saling percaya di antara berbagai pihak yang terlibat
dalam proses keputusan tersebut. Dalam masyarakat yang strukturnya majemuk
paham inktremental ini secara politis lebih aman karena akan lebih gampang
untuk mencapai kesepakatan apabila masalah-masalah yang diperdebatkan oleh
berbagai kelompok yang terlibat hanyalah bersifat upaya untuk memodifikasi
terhadap program-program yang sudah ada
daripada jika hal tersebut menyangkut isu-isu kebijaksanaan mengenai
perubahan-perubahan radikal yang memiliki sifat “ambil semua atau tidak sama
sekali. Oleh karena para pembuat keputusan itu berada dalam keadaan yang serba
tidak pasti, khususnya yang menyangkut
akibat-akibat dari tindakan-tindakan mereka dimasa datang, maka keputusan yang
bersifat inktermental ini akan dapat mengurangi resiko dan biaya yang
ditimbulkan oleh suasana ketidakpastian itu.
3.
Teori Pengamatan Terpadu (Mixed Scanning Theory)
Penganjur teori ini adalah ahli sosiologi organisasi
Amitai Etzioni. Etzioni setuju terhadap kritik-kritik para teoretisi
inktremental yang diarahkan pada teori rasional komprehensif, akan tetapi ia
juga menunjukan adanya beberapa kelemahan yang terdapat pada teori
inktremental. Misalnya, keputusan-keputusan yang dibuat oleh pembuat keputusan
penganut model inktremental akan lebih mewakili atau mencerminkan
kepentingan-kepentingan daripada kelompok-kelompok yang kuat dan mapan serta
kelompok-kelompok yang mampu mengorganisasikan kepentingannya dalam masyarakat,
sementara itu kepentingan-kepentingan dari kelompok-kelompok yang lemah dan
yang serta politis tidak mampu mengorganisasikan kepentingannya praktis akan
terabaikan.
Lebih lanjut, dengan memusatkan
perhatiannya pada kepentingan atau tujuan jangka pendek dan hanya berusaha
untuk memperhatikan variasi yang terbatas dalam kebijaksanaan-kebijaksanaan
yang ada sekarang, maka model inktremental cenderung mengabaikan peluang bagi
perlunya pembaruan sosial (social inovation) yang mendasar. Oleh karena itu
menrut Yehezkel Dror (1968) gaya inktremental dalam pembuatan keputusan
cenderung mengembangkan kelambanan dan terpeliharanya status quo, sehingga
merintangi upaya menyempurnakan proses pembuatan keputusan itu sendiri. Bagi sarjana seperti dror yang pada
dasarnya merupakan salah seorang penganjur teori rasional yang terkemuka, model inktremental
ini justru dianggapnya merupakan strategi yang tidak cocok untuk diterapkan di
negara-negara ini perubahan yang kecil-kecilan (inktremental) tidaklah memadai
guna tercapainya hasil berupa perbaikan besar-besaran.
Model
pengamatan terpadu juga memperhitungkan tingkatan kemampuan para pembuat
keputusan yang berbeda-beda. Secara umum dapat dikatakan, bahwa semakin besar
kemampuan para pembuat keputusan untuk memobilisasikan kekuasaannya guna
mengimplementasikan keputusan-keputusan mereka, semakin besar keperluannya
untuk melakukan scanningdan
semakin menyeluruh scanning itu, semakin efektif pengambilan keputusan tersebut.
Dengan demikian, model pengamatan terpadu ini pada hakikatnya merupakan
pendekatan kompromi yang menggabungkan pemanfaatan model rasional komprehensif
dan model inktremental dalam proses pengambilan keputusan.
2.2
Dasar Pengambilan Keputusan
Menurut
George R.Terry dan Brinckloe disebutkan dasar-dasar pendekatan dari pengambilan
keputusan yang dapat digunakan yaitu :
1. Institusi
Pengambilan keputusan yang didasarkan
atas institusi atau perasaan memiiki sifat subyektif sehingga mudah terkena
pengaruh. Pengambilan keputusan berdasarkan institusi ini mengandung beberapa
keuntungan dan kelemahan.
2. Pengalaman
Pengambilan keputusan
berdasarkan pengalaman memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis, karena
pengalaman seseorang dapat memperkirakan keadaan sesuatu, dapat diperhitungkan
untuk ruginya terhadap keputusan yang akan dihasilkan. Orang yang memiliki
banyak pengalaman tentu akan lebih menantang dalam pengambilan keputusan,
tetapi peristiwa yang lampau tidak sama dengan peristiwa yang terjadi kini.
3. Fakta
Pengambilan keputusan
berdasarkan fakta dapat memberikan keputusan yang sehat, solid dan baik. Dengan
fakta, maka tingkatan kepercayaan terhadap pengambilan keputusan dapat lebih
tinggi, sehingga orang dapat menerima keputusan-keputusan yang dibuat itu
dengan rela dan lapang dada.
4. Wewenang
Pengambilan keputusan
berdasarkan wewenang biasanya dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya atau
orang yang lebih tinggi kedudukannya kepada orang yang lebih rendah
kedudukkannya. Pengambilan keputusan
berdasarkan wewenang ini juga memiliki kelebihan dan kekurangan.
5. Logika
atau Rasional
Pengambilan keputusan
yang berdasarkan logika ialah suatu studi yang rasional terhadap semua umur
pada setiap sisi dalam proses pengambilan keputusan. Pada pengambilan keputusan
yang berdasarkan rasional, keputusan yang dihasilkan bersifat obyektif, logis,
lebih transparan, konsisten untuk memaksimumkan hasil atau dalam batas kendala
tertentu, sehingga dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sesuai dengan apa
yang diinginkan. Pada pengambilan keputusan secara logika terdapat beberapa hal
yang perlu diperhatikan yaitu :
a. Kejelasan masalah
b. Orientasi tujuan : kesatuan
pengertian tujuan yang ingin dicapai
c. Pengetahuan alternatif : seluruh
alternatif diketahuiJenisnya dan konsekuensinya
d. Preferensi yang jelas: alternatif
bisa diurutkan secara kriteria
e. Hasil maksimal: Pemilihan alternatif terbaik
didasarkan atas hasil ekonomis yang maksimal
2.3 Faktor – Faktor
yang Memengaruhi Pengambilan Keputusan
Menurut
terry (1989) faktor – faktor yang harus diperhatikan dalam mengambil keputusan
sebagai berikut :
1. Hal
– hal yang berwujud maupun tidak berwujud, yang emosional maupun rasional perlu
diperhatikan dalam mengambil keputusan
2. Setiap
keputusan nantinya harus dapat dijadikan bahan untuk mencapai tujuan organisasi
3. Setiap
keputusan janganlah beriorentasi pada kepentingan pribadi, perhatikan
kepentingan orang lain
4. Jarang
sekali ada pilihan yang memuaskan
5. Pengambilan
keputusan merupakan tindakan mental. Dari tindakan mental ini kemudian harus
diubah menjadi tindakan fisik
6. Pengambilan
keputusan yang efektif membutuhkan waktu yang lebih lama
7. Diperlukan
pengambilan keputusan yang praktis untuk untuk mendapatkan hasil yang baik
8. Setiap
keputusan hendaknya dikembangkan, agar dapat diketahui apakah keputusan yang
diambil itu benar; dan
9.
Setiap keputusan ini merupakan tindakan
permulaan dari serangkaian kegiatan berikutnya.
Kemudian
terdapat enam faktor lain yang juga ikut memengaruhi pengambilan keputusan
1. Fisik
Didasarkan
pada rasa yang dialami pada tubuh, seperti rasa tidak nyaman, atau kenikmatan.
Ada kecenderungan menghindari tingkah laku yang menimbulkan rasa tidak senang,
sebaliknya memilih ltingkah laku yang memberikan kesenangan.
2. Emosional
Didasarkan
pada perasaan atau sikap. Orang akan bereaksi pada suatu situasi secara
subjektif.
3. Rasional
Didasarkan
pada pengetahuan orang – orang mendapatkan informasi, memahami situasi dan
berbaga konsekuensinya.
4. Praktikal
Didasarkan
pada keterampilan individual dan kemampuan melaksanakan. Seseorang akan menilai
potensi diri dan kepercayaan dirinya melalui kemampuannya dalam bertindak.
5. Interpersonal
Didasarkan
pada pengaruh jaringan sosial yang ada. Hubungan antara satu orang kepada orang
lainnya dapat memengaruhi tindakan individual
6.
Struktural
Didasarkan pada lingkup
sosial, ekonomi dan politik. Lingkungan mungkin memberikan hasil yang mendukung
atau mengkritik suatu tingkah laku tertentu.
2.4 Proses Pengambilan Keputusan
Individu(Individual Decision Making)
Proses pengambilan keputusan individu yang
dihasilkan oleh seseorang dapat dibedakan menjadi dua macam, pertama rational approach pendekatan ini
menuntut seseorang untuk membuat keputusan dan kedua adalah bounded rationality perspective yang
menjelaskan bagaimana keputusan dibuat dibawah keterbatasan waktu dan sumber
daya.
a. Rational Approach
Merupakan sebuah pendekatan rasional yang menekankan
analisis permasalahan secara sistematis yang diikuti dengan pemilihan
alternatif serta implementasi keputusan tersebu proses pembuatan keputusan
secara individu. Pendekatan ini merupakan model ideal bagaimana keputusan di
buat dan pada praktiknya pendekatan ini tidak sepenuhnya dapat di capai dalam
dunia nyata. Menurut model ini keputusan di buat melalui 8 (delapan)
tahap,antara lain:
1. Monitor
the decision environment
Pada
tahap ini, seseorang memonitor informasi yang mengindikasikan terjadi
penyimpangan baik itu informasi yang
bersifat internal maupun ekternal
2. Define
the decision problem
Pada tahap ini
dilakukan identifikasi detail dari permasalahan yang terjadi
3. Specity
decision objectives
Pada tahap ini
seseorang menentukan apa yang ingin dicapai oleh keputusan yang akan dibuat.
4. Diagnose
the problem
Ditahap ini seseorang
menelusuri lebih lanjut serta menganalisis apa yang menjadi sumber
permasalahan.
5. Develop
alternative solutions
Seseorang mengemukakan
tidak hanya satu alternatif keputusan dalam menangani masalah.
6. Evaluate
alternatives
Pada tahap ini
teknik-teknik stastistik atau pengalaman pribadi dapat digunakan untuk mencari
alternatif keputusan dengan tingkat keberhasilan tertinggi
7. Choose
the best alternative
Pada tahap ini
kemampuan seseorang diuji untuk memutuskan alternatif keputusan mana yang harus
dipilih, sehingga ditahap ini akan dihasilkan alternatif keputusan tunggal
sebagai solusi dari permasalahan yang terjadi.
8. Implement
the chosen alternative
Pada tahap ini
seseorang mulai menggunakan kemampuan persuasif dan administratif manajarial
yang dimilikinya. Seseorang juga dituntut untuk memberikan arahan guna menjamin
keputusan yang diambil dilaksanakan dengan baik.
b. Bounded
Rationality Perspective
Pendekatan
proses pengambilan keputusan secara rasional sangat sulit dilakukan pada
kenyataannya seseorang dalam dunia nyata dituntut untuk melakukan pengambilan
keputusan yang cepat. Sehingga dalam pengambilan keputusan seseorang akan
terbatasi oleh waktu, factor internal dan eksternal serta sifat alamiah suatu
permasalahan yang tidak memungkinkan untuk dilakukannya suatu analisis
menyeluruh terhadap permasalahan tersebut. Hal ini yang menjadikan pengambilan
keputusan secara rasional menjadi terbatasi ( Bounded rationality perspective
). Pengambilan keputusan menggunakan pendekatan ini umumnya lebih menekankan
pada aspek intuisi, pengalaman dan penilaian (judjement) dibandingkan dengan
langkah-langkah logis. Intuisi tidak selalu bersifat irasional, karena intuisi
didasarkan atas pengalaman bertahun-tahun dari seseorang terhadap pekerjaannya
yang tlah tersimpan didalam bawah sadarnya. Intuisi akan menghasilkan
keberanian serta firasat mengenai alternative keputusan mana yang diperkirakan
dapat memecahkan permasalahan sehingga intuisi akan mempersingkat waktu dalam
pengambilan keputusan.
Keterlibatan bidan dalam
proses pengambilan keputusan sangat penting karena dipengaruhi oleh dua hal: 1)
pelayanan “one the one”: bidan dank lien bersifat sangat pribadi dan bidan bias
memenuhi kebutuhan, dan 2) meningkatkan sensitivitas terhadap klien bidan
berusaha keras untuk memenuhi kebutuhan.
2.5 Empat Tingkatan Kerja Pertimbangan
Moral Dalam Pengambilan Keputusan Ketika Menghadapi Dilema Etik
1.
TINGKATAN 1: Keputusan dan tindakan: Bidan
mereflesikan pada pengalaman atau pengalaman rekan kerja
2.
TINGKATAN 2: Peraturan: Berdasarkan
kaidah kejujuran (berkata benar), privasi, kerahasian dan kesetian. Bidan
familiar, tidak meninggalkan kode etik dan panduan praktek profesi.
3.
TINGKATAN 3: Ada 4 prinsip etika yang
digunakan dalam perawatan praktek
kebidanan (menurut Beaucamo & Childrens 1989 dan Richard, 1997).
a. Anatonomy,
memperhatikan penguasaan diri, hak kebebesan dan pilihan individu.
b. Beneticence,
memperhatikan pengingkatan kesajehteraan klien, selain itu berbuat terbaik
untuk orang lain.
c. Non
Maleticence, tidak melakukan tindakan yang menimbulkan penderitaan apapun
kerugiaan pada orang lain.
d. Justice, memperhatikan keadilan, pemerataan beban dan
keutungan.
4. TINGKATAN 4: teori
pengambilan keputusan sebagaimana berikut ini:
a. Teori
Utilitarisme: Ketika keputusan diambil. Simalkan kesenangan, menimbulkan
ketidaksenangan.
b. Teori
Deontology: Menurut Immanuel Kant : sesuatu dikatakan baik bila bertindak baik.
Contohnya bila berjanji dan ditepati, bila pinjam harus dikembalikan .
c. Teori
Hedonisme: Menurut Aristippos. Sesuai kodratnya, setiap manusia mencari
kesenangan dan menghindari ketidaksenangan.
d. Teori
Eudemonisme: Menurut filsuf Yunani Aristoteles, bahwa dalam setiap kegiatannya
manusia mengejar suatu tujuan, ingin mencapai suatu yang baik bagi kita.
2.6
Bentuk Pengambilan Keputusan
1.
Strategi: Dipengaruhi oleh kebijakan
organisasi atau pimpinan, rencana dan masa depan, rencana bisnis dan lain-lain.
2.
Cara kerja: Yang dipengaruhi pelayanan
kebidanan di dunia, klinik, dan komunitas.
3.
Individu dan profesi: Dilakukan oleh
bidan yang dipengaruhi oleh standar praktik kebidanan.
2.7
Pengambilan Keputusan
Ciri-ciri keputusan
yang etis adalah sebagai berikut:
1. Mempunyai
pertimbangan yang benar atau salah
2. Sering
menyangkut pilihan yang sukar
3. Tidak
mungkin dielakkan
4. Memperjelas
hasil prioritas yang ingin dicapai
5. Mempertimbangkan
pilihan yang ada
6. Memilih
solusi dan menerapkan atau melaksanakannya
Tips pengambilan
keputusan yang etis dalam keadaan kritis adalah sebagai berikut :
1. Indentifikasi
dan tugaskan apa masalahnya, baik oleh sendiri atau dengan orang lain
2. Tetapkan
hasil apa yang diingikan
3. Uji
kesesuaian yang lebih baik
4. Pilih
solusi yang lebih baik
5. Laksanakan
tindakan tanpa ada keterlambatan
2.8 Pengambilan Keputusan Klinis
Pengambilan keputusan klinis adalah keputusan yang
diambil berdasarkan kebutuhan dan masalah yang dihadapi klien, sehingga semua
tindakan yang dilakukan bidan dapat mengatasi permasalah yang didahapi klien
yang bersifat emergensi, antisipasi, atau rutin. Pengambilan keputusan klinis
tergantung:
1. Pengetahuan
2. Latihan
praktik
3. Pengalaman
Pengambilan
keputusan klinis yang benar dan tepat klinis yang benar dan tepat dapat
dilakukan dengan cara sebagaimana berikut ini:
1. Menghindari
pekerjaan atau tindakan rutin yang tidak sesuai dengan kebutuhan klien
2. Meningkatkan
efektivitas dan efisiensi pelayanan yang diberikan
3. Membiasakan
bidan berfikir dan bertindak sesuai standar
4. Memberikan
kepuasan pelanggan
Langkah-langkah
yang dapat dilakukan dalam upaya pengambilan keputusan klinis adalah
sebagaimana berikut ini:
1. Penilaian
(Pengumpulan informasi)
2. DX
(Penafsiran)
3. Perencana
4. Intervensi
5. Evaluasi
Ada
dua hal yang harus diperhatikan dalam menghadapi situasi panik yaitu:
a. Mempertimbangan
satu solusi berdasarkan pengalaman di masa lampau
b. Meninjau
simpanan pengetahuan yang relevan dengan keadaan tersebut
Manfaat
yang perlu diketahui mengapa bidan perlu mengerti situasi:
1. Untuk
menerapkan norma-norma terhadap situasi
2. Untuk
melakukan perbuatan yang tepat dan berguna
3. Untuk
mengetahui masalah-masalah yang perlu diperhatikan
Tidak
semua orang bisa memahami situasi, karena dalam memahami situasi setiap orang
mempunyai kendala. Berikut ini kendala yang dapat menyebabkan kesulitan dalam
mengerti situasi:
1. Kerumitan
situasi dan keterbatasan pengetahuan kita
2. Pengertian
kita terhadap situasi sering dipengaruhi oleh kepentingan, prasangka dan
faktor-faktor subjektif lain.
Pemahaman
seseorang tentang situasi dapat diperhatikan dengan beberapa cara berikut ini:
1.
Melakukan penyelidikan yang memadai
2.
Menggunakan sarana ilmiah dan keterangan
para ahli
3.
Memperluas pandangan tentang situasi
4.
Kepekaan terhadap pekerjaan
5.
Kepekaan terhadap kebutuhan orang lain
BAB
III
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Pengambilan
keputusan merupakan hasil pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas.
Seorang bidan harus mampu bisa mengambil keputusan dengan baik dan tidak
ceroboh dengan waktu yang tepat. Dengan mengambil keputusan yang tepat akan
mudah untuk melakukan tindakan atau menyelesaikan masalah, maka dari itu
mempelajari pengambilan keputusan sangatlah penting untuk tenaga medis.
3.2
Saran
Diharapkan
setelah mepelajari pengambilan keputusan ini mampu menerapkan cara-cara
bagaimana pengambilan keputusan yang baik dan tepat. Jika tidak bisa segera mengambil
keputusan yang tepat atau ceroboh bisa membahayakan tindakan yang akan
dilakukan.
Daftar Pustaka
Marmi. 2014. Etika Profesi Bidan. Celeban Timur; Pustaka Pelajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar